Diagnosis gagal ginjal kronis stadium lanjut menyerang seorang wanita bernama Sema Chintya pada usia 31 tahun akibat penyakit hipertensi yang tidak diobati. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa gangguan fungsi organ tersebut tidak selalu identik dengan kelompok usia lanjut.
Melalui sebuah unggahan video di akun TikTok pribadinya, Sema Chintya mengungkapkan bahwa dirinya tidak menduga keluhan yang dialami selama beberapa tahun terakhir merupakan gejala kerusakan organ vital. Ia menyatakan telah berupaya menerapkan pola hidup sehat sebelum diagnosis medis tersebut keluar.
"Aku kena gagal ginjal ini tuh karena aku hipertensi, tapi aku tuh nggak pernah minum obat. Padahal waktu dua tahun terakhir tuh aku rajin pound fit, rajin olahraga, minum air putih tuh banyak banget, aku bisa 2-3 liter setiap hari," jelas Sema Chintya.
Kondisi medis yang dialami oleh wanita tersebut sempat memicu keheranan dari para pengguna internet. Sebagian besar warganet mempertanyakan alasan kerusakan organ tetap terjadi padahal pasien rutin menjaga kecukupan konsumsi cairan harian.
Fenomena ini mendapat tanggapan langsung dari spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, dr Tunggul Situmorang. Melalui penjelasan yang dilansir dari Detik Health pada Jumat (22/5/2026), ia menekankan bahwa konsumsi cairan harian yang tinggi tidak otomatis melindungi organ dari kerusakan kronis.
"Jadi sebenarnya air putih itu bukan menjadi obat bahwa ginjal akan sehat. Ada persepsi bahwa orang gagal ginjal karena kurang minum air putih, padahal tidak sesederhana itu," kata dr Tunggul Situmorang.
Faktor kekurangan cairan diakui memang dapat memengaruhi kinerja organ penyaring darah tersebut. Kendati demikian, pemicu utama kerusakan kronis umumnya bersumber dari penyakit sistemik yang tidak terkendali dengan baik oleh pasien.
"Gagal ginjal itu bisa disebabkan penyakit non-ginjal dan penyakit ginjal," ujarnya.
Kelompok penyakit non-ginjal atau gangguan sistemik menempati posisi tertinggi sebagai pemicu kasus yang paling sering ditemukan di masyarakat. Penyakit-penyakit tersebut merusak fungsi organ secara bertahap tanpa disadari.
"Sangat banyak disebabkan penyakit sistemik seperti hipertensi, diabetes, penyakit autoimun, infeksi di tempat lain," jelasnya.
Di sisi lain, terdapat faktor internal yang merusak langsung dari dalam organ, seperti radang, keberadaan batu saluran kemih, hingga infeksi berulang. Masalah pada area pasca-ginjal juga dapat menyumbat aliran urine dan memicu kerusakan struktur jaringan.
"Prostat membendung, keganasan, kanker serviks pada wanita, itu juga bisa menyebabkan gagal ginjal," lanjutnya.
Oleh karena itu, tenaga medis menilai perlu ada pembenahan pemahaman di tengah masyarakat. Pola pikir yang mengaitkan kesehatan organ urinaria hanya dengan volume cairan yang diminum harus segera diubah.
"Jadi bukan ditekankan soal air putih saja. Ada persepsi yang harus diluruskan," katanya.