PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) mengumumkan langkah ekspansi besar pada tahun 2026 ini melalui rencana akuisisi PT Tambang Meranti Mulia Sejahtera (TMMS). Demi membiayai aksi korporasi tersebut, perseroan siap menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.
Dikutip dari Stocksetup, emiten manufaktur karoseri kendaraan komersial ini bakal menerbitkan sekitar 2,13 billion lembar saham baru. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp125 per saham, sehingga total dana yang berpotensi dihimpun mencapai kisaran Rp266,29 miliar.
Perusahaan berniat mengalokasikan seluruh dana hasil rights issue untuk meningkatkan kepemilikan saham di TMMS secara signifikan. Manajemen meluncurkan strategi ini guna memperbesar porsi kepemilikan dari semula 21,57 persen menjadi 99 persen sekaligus bertindak sebagai pengendali penuh.
Secara keseluruhan, total nilai transaksi untuk mencaplok perusahaan target diperkirakan berada pada rentang Rp257 miliar hingga Rp317 miliar. Momentum pengumuman rencana ekspansi ini sempat memicu pergerakan volatil yang membuat saham HOPE menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada Rabu (22/4).
Namun, laju saham berkode HOPE tersebut berbalik arah dan dibuka melemah sekitar 7 hingga 8 persen pada perdagangan Kamis (23/4) menuju level Rp288 per saham. Operasional bisnis HOPE sendiri selama ini mengandalkan sektor logistik, konstruksi, serta pertambangan lewat penyediaan armada kendaraan operasional berat.
Perusahaan sasaran, yaitu TMMS, beroperasi di bidang pertambangan beserta lini jasa penunjangnya. Ruang lingkup bisnisnya mencakup kontraktor tambang, penyewaan alat berat seperti dump truck, perdagangan komoditas, hingga layanan pelabuhan seperti stevedoring dan jetty.
Sepanjang tahun 2025, TMMS membukukan performa finansial berupa pendapatan sekitar Rp193,6 miliar. Pada periode yang sama, entitas pertambangan tersebut mengamankan total aset dengan nilai mencapai kisaran Rp320 miliar.
Langkah pencaplokan ini sengaja diambil manajemen HOPE untuk memperkuat integrasi vertikal di dalam struktur bisnis perseroan. Melalui strategi ini, kebutuhan armada dump truck untuk operasional TMMS nantinya dapat dipasok dan diproduksi langsung oleh karoseri milik HOPE.
Skema integrasi diproyeksikan mampu menciptakan captive market internal yang kokoh bagi perseroan ke depan. Selain itu, korporasi berpeluang memperluas jangkauan masuk ke ekosistem pertambangan serta mendiversifikasi sumber pendapatan ke sektor yang lebih luas.
Struktur Manajemen Komersial Perusahaan
Lini usaha utama perseroan saat ini meliputi pembuatan bak truk, dump truck, trailer, semi trailer, hingga kendaraan khusus. Perseroan juga menjalankan perakitan kendaraan industri serta jasa modifikasi kendaraan berat, sebelum nantinya merambah ke jasa pendukung pertambangan.
Tata kelola perusahaan saat ini dijalankan oleh jajaran direksi dan komisaris yang tercatat secara resmi di bursa:
Direktur
- Kevin Jong merupakan Direktur Utama
- Ir. Nathan Octavian Wangsadirdja merupakan Direktur
- Rusli Djuhana merupakan Direktur
- Herryan Syahputra merupakan Direktur
- Lo Khie Pong merupakan Direktur
Komisaris
- Wimba Prambada merupakan Komisaris Utama
- Rino Yosiaki Manangkalangi merupakan Komisaris
- Antonius merupakan Komisaris.
Kinerja Keuangan Sepanjang Tahun 2025
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), performa keuangan PT Harapan Duta Pertiwi Tbk memperlihatkan adanya perbaikan yang masih terbatas. Pendapatan usaha perseroan melonjak signifikan sebesar 107,7 persen menjadi Rp40,5 miliar pada tahun 2025, berbanding Rp19,5 miliar pada tahun 2024.
Kendati aktivitas bisnis mengalami peningkatan, korporasi masih harus menderita rugi bersih senilai Rp22,8 miliar. Angka performa bottom line ini tercatat hanya membaik tipis 0,4 persen jika dikomparasikan dengan rugi bersih tahun sebelumnya yang mencapai Rp22,9 miliar.
Dari aspek profitabilitas, nilai rugi kotor perusahaan berhasil dipangkas 47,8 persen menjadi Rp4,7 miliar dari posisi sebelumnya Rp9,0 miliar. Sementara itu, posisi EBITDA bergerak stagnan dan tertahan pada level rugi sebesar Rp15,2 miliar yang mengindikasikan efisiensi operasional belum optimal menghasilkan laba.