Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan bahwa risiko penularan hantavirus bagi masyarakat umum di Indonesia relatif rendah meskipun virus ini telah terdeteksi selama puluhan tahun. Penegasan ini disampaikan pada Jumat (8/5/2026) guna merespons perhatian internasional terhadap kasus virus yang ditularkan oleh hewan pengerat tersebut.
Data Kementerian Kesehatan yang dilansir dari Lifestyle menunjukkan keberadaan hantavirus di Indonesia bersifat sporadis dengan catatan 23 kasus sejak 2015 di sembilan provinsi. Sebaran kasus terbanyak ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta, diikuti oleh Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.
Dominicus Husada, Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus pengurus IDAI, memberikan klarifikasi terkait keresahan yang muncul di ruang publik akibat informasi di media sosial.
“Gambar yang beredar di media sosial menurut saya terlalu menakutkan. Kita tidak setakut itu terhadap hanta, tetapi tentu jangan sampai lengah,” ujarnya dalam pemaparan, Jumat (8/5/2026).
Dominicus menjelaskan bahwa virus ini umumnya ditularkan melalui partikel urin, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup oleh manusia di ruang tertutup. Ia menekankan bahwa hampir seluruh jenis hantavirus memiliki kaitan erat dengan keberadaan tikus sebagai inang pembawa.
“Hampir semua hantavirus berkaitan dengan tikus. Pada hewan itu, virus bisa menetap lama tanpa gejala, tetapi tetap dapat menular,” jelas Dominicus.
Hantavirus telah lama menjadi perhatian medis global dengan fluktuasi jumlah kasus yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data nasional, jumlah kasus sempat mencapai puncaknya pada 2017 dengan 4.362 kasus sebelum mengalami penurunan drastis pada tahun-tahun berikutnya.
Hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat 59 kasus secara global, sementara total kumulatif sejak 2025 mencapai 387 kasus terkonfirmasi di 10 negara, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat. Dominicus menegaskan bahwa rekam jejak virus ini membuktikan hantavirus bukan merupakan patogen baru di tanah air.
“Artinya, hantavirus bukan barang baru di Indonesia. Kita sudah pernah mencatat kasusnya, tetapi memang tidak menyebar luas,” tegas Dominicus.
Penelitian AFIRE periode 2013–2016 memperkuat fakta ini dengan temuan tingkat positivitas hantavirus sebesar 11,6 persen dari 327 sampel di kota-kota besar. Denpasar mencatat prevalensi tertinggi mencapai 16,3 persen, disusul oleh Surabaya dan Makassar.
| Kota | Tingkat Prevalensi (%) |
|---|---|
| Denpasar | 16,3 |
| Surabaya | 13,6 |
| Makassar | 13,5 |
| Semarang | 13,4 |
| Jakarta | 11,1 |
| Bandung | 6,7 |
| Yogyakarta | 3,2 |
Meskipun ditemukan di berbagai wilayah, pola penyebaran hantavirus dinilai berbeda dengan virus pernapasan masif seperti influenza atau COVID-19. Risiko penularan tetap terkendali selama masyarakat tidak melakukan kontak erat dengan sumber infeksi utama.
“Risiko terhadap publik relatif rendah. Ini bukan Covid, bukan influenza. Kalau tidak kontak erat atau tidak terpapar sumber infeksinya, kemungkinan tertular juga kecil,” pungkas Dominicus.
Sebagai langkah pencegahan, IDAI menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dari kontaminasi hewan pengerat. Masyarakat diimbau untuk segera mencari bantuan medis apabila mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar faktor risiko di area terdampak.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir atau panik berlebihan. Tetap waspada, jaga kebersihan lingkungan, hindari kontak dengan tikus atau kotorannya, dan bila ada keluhan setelah terpapar faktor risiko segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tutup Dominicus.