Identitas sosok yang menjadi 'Pasien Nol' dalam serangan wabah hantavirus di sebuah kapal pesiar akhirnya terungkap. Sosok tersebut merupakan seorang ahli ornitologi atau pakar burung bernama Leo Schilperoord.
Pria berusia 70 tahun tersebut meninggal dunia akibat kegemaran mendalamnya terhadap dunia burung yang diduga menjadi pemicu infeksi mematikan. Dilansir dari Detik iNET, Leo sedang menjalani perjalanan panjang selama lima bulan di Amerika Selatan bersama istrinya, Mirjam Schilperoord.
Pasangan asal desa Haulerwijk, Belanda ini telah menjelajahi berbagai negara mulai dari Argentina, Chile, hingga Uruguay sejak November. Identitas mereka terkonfirmasi melalui berita duka yang rilis di majalah komunitas desa tempat tinggal mereka.
Tragedi ini bermula saat pasangan Schilperoord kembali ke Argentina pada 27 Maret untuk mengunjungi sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di luar kota Ushuaia. Lokasi ini merupakan destinasi populer bagi pengamat burung dunia karena menjadi habitat caracara leher putih yang langka.
Otoritas kesehatan Argentina menduga kuat bahwa pasangan ini menghirup partikel dari kotoran tikus padi kerdil berekor panjang di TPA tersebut. Hewan pengerat itu membawa strain Andes dari hantavirus yang dikenal sangat berbahaya.
Varian strain Andes ini memiliki karakteristik unik sebagai satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui mampu menular antarmanusia. Kondisi TPA yang melampaui batas kapasitas menjadi faktor risiko tinggi bagi para pengunjung di lokasi tersebut.
Kesaksian Pemandu Lokal
Gaston Bretti, seorang fotografer dan pemandu lokal, menjelaskan bahwa kunjungan pengamat burung ke area TPA merupakan hal yang lazim dilakukan demi menemukan spesies tertentu.
"Sudah menjadi hal yang umum bagi pengamat burung untuk mengunjungi TPA karena ada banyak burung di sana. Ini adalah gunung sampah yang saat ini jauh melebihi batas yang awalnya ditetapkan oleh pihak berwenang" kata Gaston Bretti.
Perjalanan Terakhir dan Kematian Beruntun
Setelah dari TPA, Leo dan Mirjam naik ke kapal MV Hondius pada 1 April bersama ratusan penumpang lainnya. Leo mulai merasakan gejala berat seperti demam, sakit kepala, hingga diare pada 6 April dan meninggal dunia lima hari kemudian di atas kapal.
Mirjam yang membawa jenazah suaminya turun di Pulau Santa Helena pada 24 April untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Belanda. Namun, ia tidak pernah sampai ke tujuan setelah jatuh pingsan di bandara saat transit di Johannesburg, Afrika Selatan.
Kru pesawat sempat melarang Mirjam terbang karena kondisinya yang terlihat sangat buruk. Ia dinyatakan meninggal dunia keesokan harinya setelah mendapatkan penanganan medis darurat akibat infeksi yang sama.