Saham sektor perbankan belum berhasil keluar dari zona merah seiring dengan koreksi pasar saham yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dilansir dari Keuangan, pelemahan ini berjalan selaras dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang merosot 2,87 persen secara harian menuju level 5.434,31 pada akhir sesi I, Senin (8/6/2026).
Pelemahan terdalam di antara kelompok bank berkapitalisasi pasar besar dialami oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Harga saham BBRI anjlok 2,92 persen secara harian menjadi Rp 2.660 per saham, setelah sempat menyentuh titik terendah Rp 2.620 yang menjadi rekor terlemah dalam lima tahun terakhir.
Koreksi serupa membayangi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang melemah 2,8 persen ke posisi Rp 3.120 per saham. Pada paruh pertama perdagangan, harga BBNI bahkan sempat merosot ke Rp 3.040, posisi paling rendah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terdepresiasi 2,27 persen secara harian hingga mendarat di harga Rp 4.950 per saham. Saham BBCA terlempar dari level psikologis Rp 5.000 dan sempat menyentuh Rp 4.870, yang mencetak level terendah dalam lima tahun terakhir.
Penurunan yang lebih landai dicatatkan oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 0,52 persen ke level Rp 3.820 per saham. Sepanjang perdagangan sesi pertama, BMRI sempat menyentuh Rp 3.730, yang merupakan titik terendahnya dalam tiga tahun belakangan.
Gelombang koreksi tidak hanya melanda kelompok bank besar, tetapi juga menekan saham-saham perbankan lainnya. Di jajaran bank pelat merah, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) terperosok 5,1 persen menjadi Rp 1.675, sedangkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menyusut 4,39 persen ke harga Rp 1.090.
Tekanan jual juga melanda sektor perbankan swasta. Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) terpangkas 4,52 persen menjadi Rp 1.470, disusul PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang melemah 6,19 persen ke level Rp 3.940, serta PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang terkoreksi 1,44 persen menjadi Rp 2.730.