IHSG dan Bursa Asia Terkoreksi Tajam Dipicu Sentimen Global

IHSG dan Bursa Asia Terkoreksi Tajam Dipicu Sentimen Global

Pasar keuangan domestik menghadapi tekanan hebat yang bergerak selaras dengan koreksi tajam di bursa saham Asia Pasifik. Dilansir dari Investasi, para investor melakukan aksi jual dalam skala besar terhadap saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menggerakkan penguatan pasar global.

Seluruh indeks sektoral berada di zona merah dengan pelemahan terdalam dipimpin oleh sektor transportasi yang merosot hingga 4,72%. Sektor infrastruktur menyusul dengan penurunan sebesar 4,67%, sementara sektor bahan baku ikut terkoreksi sebesar 4,34%.

Kondisi ini diperparah oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 18.000 per dolar AS. Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar mulai mengubah persepsi mereka terhadap TPIA, meskipun risiko investasinya dinilai belum sepenuhnya hilang.

Masa depan TPIA kini tidak lagi bergantung pada industri petrokimia global. Sektor tersebut diketahui masih mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan yang berasal dari China.

Tekanan paling dalam di kawasan Asia Pasifik salah satunya melanda indeks KOSPI Korea Selatan. Mengutip Reuters, indeks tersebut anjlok lebih dari 6,8% pada perdagangan Senin.

Tingginya volatilitas di bursa Korea Selatan bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 20 menit. Secara akumulatif, indeks KOSPI telah mengalami koreksi sekitar 14% dari rekor tertinggi yang baru saja dicapai pada pekan lalu.

Kondisi serupa terjadi di Jepang dengan indeks Nikkei 225 yang jatuh sekitar 3,4% pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka (futures) indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 di Amerika Serikat bergerak dalam rentang terbatas setelah aksi jual besar akhir pekan lalu.

Dampak Data Ketenagakerjaan dan Geopolitik

Indeks teknologi Nasdaq tercatat ambles sebesar 4,2% pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang hasilnya jauh lebih kuat daripada perkiraan pasar.

Data ekonomi yang solid tersebut memicu kekhawatiran baru bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini. Selain masalah suku bunga, pasar juga dibayangi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Serangan udara Israel ke Beirut telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia sekaligus memperkuat posisi dolar AS. Kombinasi dari kenaikan harga energi, penguatan mata uang dolar, dan ketidakpastian suku bunga global membuat investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Pergerakan Saham LQ45 Dalam Negeri

Di jajaran saham unggulan LQ45, sejumlah emiten mencatatkan penurunan nilai yang cukup signifikan. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) merosot 8,32% ke posisi Rp 4.190 per lembar saham.

Selanjutnya, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah sebesar 7,61% menuju level Rp 1.335. Melemahnya pasar juga menyeret saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang terkoreksi 7,24% ke angka Rp 1.795.

Di tengah gelombang koreksi ini, hanya ada segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) berhasil menjadi salah satu top gainers di indeks LQ45 setelah menguat tipis 0,34% ke level Rp 1.490.

Artikel terkait

Rekomendasi