IHSG Tersungkur 4,52 Persen Saham Big Banks Kompak Anjlok

IHSG Tersungkur 4,52 Persen Saham Big Banks Kompak Anjlok

Arus dana keluar investor terus menekan pergerakan saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo atau big banks. Dilansir dari Keuangan, perbaikan kinerja fundamental maupun sentimen positif dari perseroan belum mampu menahan aksi jual tersebut.

Kondisi ini berjalan beriringan dengan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang kembali tersungkur pada pembukaan pekan. IHSG mencatatkan koreksi sebesar 4,52% secara harian dan mendarat di level 5.342,14 pada akhir perdagangan Senin (8/6/2026).

Kejatuhan indeks turut memukul harga saham para emiten perbankan raksasa nasional. Secara harian, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan penurunan terdalam sebesar 6,23% menuju level Rp 3.010.

Pelemahan ini diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang merosot 5,47% ke harga Rp 2.590. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ambles 4,43% menjadi Rp 4.850, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 3,39% ke posisi Rp 3.710.

Penurunan serentak ini membawa rapor merah baru bagi performa harga saham perbankan. Bagi BBCA dan BBRI, posisi harga saat ini menembus level terendah mereka dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun bagi BBNI dan BMRI, angka tersebut menjadi rekor harga terlemah dalam tiga tahun ke belakang.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai kemerosotan harga saham dipicu oleh sentimen negatif makroekonomi domestik. Salah satu faktor utamanya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang telah melewati angka Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Padahal, jika merujuk pada faktor fundamental, kinerja operasional emiten bank besar masih terhitung solid sepanjang empat bulan pertama tahun ini. BBCA bahkan berupaya memberikan sentimen positif lewat rencana pembagian dividen interim Rp 20 per saham bulan ini.

Namun, daya tarik imbal hasil dividen tersebut cenderung memudar di tengah era suku bunga tinggi. Ditambah lagi, BBCA mulai menghadapi momentum perlambatan laba tahunan yang hanya tumbuh 3% secara year on year akibat moderasi pendapatan bunga bersih per April 2026.

"Jadi dividen tak menjawab kekhawatiran inti soal tekanan margin saat biaya dana naik," tutur Harry kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Pandangan serupa datang dari Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis. Menurutnya, dampak pengumuman dividen interim BBCA tidak cukup kuat meredam besarnya nilai penjualan bersih atau net sell yang melanda IHSG.

Sektor perbankan menjadi area yang paling terdampak karena memiliki bobot kapitalisasi dan tingkat likuiditas yang sangat besar di dalam indeks. Padahal, Abdul sepakat bahwa kondisi permodalan, pertumbuhan kredit, dan kualitas aset perbankan nasional masih berada dalam posisi aman.

Dalam jangka pendek, pergerakan harga saham perbankan diprediksi lebih banyak disetir oleh dinamika eksternal. Faktor penentunya meliputi arah kebijakan suku bunga The Fed, fluktuasi rupiah, serta konsistensi aliran modal investor asing.

"Volatilitas saham big banks masih berpotensi berlanjut selama investor asing belum kembali mencatatkan net buy secara konsisten," sebut Abdul.

Sementara itu, Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menyoroti fokus pelaku pasar yang kini tertuju pada sovereign rating Indonesia. Risiko penurunan rating atau outlook yang memburuk di masa depan dapat memperpanjang tekanan koreksi saham perbankan.

Andrey menambahkan, kebijakan fiskal pemerintah akan memegang peran penting dalam menentukan arah pergerakan saham ke depan. Meskipun mayoritas sentimen negatif saat ini sebenarnya sudah mulai tercermin pada valuasi saham big banks yang ada.

"Secara historis, valuasi beberapa bank sudah berada di bawah rata-rata jangka panjangnya. Oleh karena itu, ruang penurunan tambahan mungkin lebih terbatas dibandingkan beberapa minggu lalu, kecuali terjadi kejutan makro yang signifikan," ujarnya.

Melalui analisis tersebut, Andrey mempertahankan rating overweight untuk sektor perbankan karena koreksi makro ini membuka peluang akumulasi bertahap jangka menengah hingga panjang. Ia merekomendasikan buy untuk BMRI dengan target harga Rp 5.920 dan BBRI di target Rp 4.000.

Di sisi lain, Harry Su menyematkan rating netral untuk sektor perbankan dan memilih BMRI sebagai saham pilihan dengan target harga Rp 6.000. Sedangkan Abdul Azis menyarankan investor untuk mengambil langkah wait and see.

"Mengingat IHSG juga masih dalam downtrend," kata Azis.

Artikel terkait

Rekomendasi