Indera Penciuman Manusia Mampu Memicu Memori Masa Lalu Secara Emosional

Indera Penciuman Manusia Mampu Memicu Memori Masa Lalu Secara Emosional

Aroma tertentu seperti bau makanan atau parfum sering kali secara tiba-tiba memicu kilas balik atau flashback ke masa lalu. Fenomena wewangian yang mengingatkan seseorang pada momen spesifik dalam hidup ini telah menarik perhatian para peneliti sejak lama.

Hubungan antara bau dan memori telah dieksplorasi sejak tahun 1935 oleh seorang psikolog bernama Donald Laird, seperti dilansir dari Detik Health. Dalam studi tersebut, Laird meminta 254 orang untuk mencatat aroma yang memicu nostalgia dalam kehidupan mereka.

Hasil penelitian mengumpulkan ratusan cerita unik, mulai dari aroma parfum yang mengingatkan momen berdansa, bau wol yang mengembalikan ingatan pada paman yang wafat, hingga aroma serbuk kayu dari tempat penggergajian.

"Kenangan yang dipicu oleh bau-bau tersebut ternyata kuat, emosional, dan tertanam dalam. Bukan sekedar 'bayangan samar yang lewat begitu saja dalam pikiran kita'," ucap Laird dalam laporannya, dikutip dari Harvard Medicine, Senin (18/5/2026).

Penelitian modern yang dilakukan hampir satu abad kemudian mencoba menggali fenomena ini lebih dalam. Profesor neurobiologi Harvard Medical School, Sandeep Robert Datta, menyatakan bahwa indera penciuman manusia sangat terikat dengan pusat kognitif, emosi, dan memori.

Hidung manusia dilengkapi dengan ratusan reseptor bau yang bekerja interaktif dengan kelompok molekul aroma tertentu. Ketika molekul masuk dan bertemu dengan reseptor yang selaras, prosesnya menyerupai mekanisme kunci dan gembok.

Neuron sensorik olfaktori kemudian menyalurkan sinyal listrik melalui akson menuju area otak. Sinyal ini singgah di olfactory bulb sebelum meneruskan perjalanan ke pusat pembelajaran, emosi, dan memori.

Bagian otak yang terlibat meliputi korteks olfaktori atau piriform cortex yang bertugas mengenali bau, amigdala yang mengatur emosi, serta hipokampus yang menyimpan memori. Informasi dapat disimpan tanpa batas waktu jika hipokampus menilai bau tersebut berkaitan dengan momen emosional.

Kondisi ini menyebabkan aroma yang sama dapat membangkitkan kembali kenangan serta emosi masa lalu secara instan, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.

"Informasi dari penglihatan, suara, dan indra lain harus melewati thalamus terlebih dahulu sebelum mencapai amigdala dan hipokampus. Sebaliknya, sistem penciuman berada tepat di samping kedua area tersebut, sehingga tampak 'berevolusi untuk langsung menghubungkan informasi dengan pusat memori dan emosi'," kata Datta.

Mekanisme biologis ini menjelaskan alasan memori yang digerakkan oleh indera penciuman cenderung lebih emosional. Faktor ini juga yang membuat seseorang lebih sering terlempar kembali ke masa awal kehidupannya lewat bau dibandingkan rangsangan indera lainnya.

Artikel terkait

Rekomendasi