Pasar herbal medicine global terus menunjukkan pertumbuhan pesat dan diproyeksikan mampu menyentuh angka 600 miliar dollar AS atau setara Rp 9.720 triliun pada tahun 2030 mendatang. Mengutip pemberitaan dari Money, Indonesia kini mulai bergerak aktif mendorong industri obat modern alami yang berbasis biodiversitas untuk menembus pasar internasional tersebut.
Potensi besar ini didukung oleh status Indonesia sebagai pemilik biodiversitas terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Negara ini tercatat memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman obat yang kini diarahkan untuk menjadi produk fitofarmaka melalui dukungan riset ilmiah serta sains modern.
Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica sekaligus Guru Besar Kehormatan Bioteknologi Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Prof. Raymond R. Tjandrawinata, memberikan analisisnya terkait peta industri herbal dunia. Menurutnya, kesuksesan China dan India tidak hanya bertumpu pada kekayaan alam semata, melainkan didorong oleh keberanian mengintegrasikan sistem kesehatan mereka.
“Indonesia memiliki biodiversitas terbesar kedua di dunia. Langkah selanjutnya adalah membangun sistem kesehatan yang mengintegrasikan obat berbasis biodiversitas alam ke dalam layanan kesehatan formal, sebagaimana China dan India telah membuktikannya,” ujar Raymond melalui keterangannya, Senin (18/5/2026).
Raymond menambahkan bahwa China sukses menjadikan Traditional Chinese Medicine (TCM) sebagai bagian integral pada sistem rumah sakit nasional hingga diakui sebagai global herbal drug. Di sisi lain, India berhasil memajukan Ayurveda lewat jaringan rumah sakit skala nasional yang diperkuat oleh riset intensif dan uji klinis terpercaya.
Tantangan Literasi Konsumen di Pasar Domestik
Minat masyarakat lokal terhadap produk herbal terpantau terus merangkak naik dalam beberapa tahun terakhir. Faktor pendorong utamanya meliputi pergeseran gaya hidup ke arah alami, peningkatan kesadaran kesehatan preventif, hingga keterbatasan akses fasilitas kesehatan di beberapa daerah.
Akan tetapi, perkembangan pasar domestik ini masih membentur kendala rendahnya literasi konsumen terhadap produk herbal itu sendiri. Berdasarkan Data Profil Statistik Kesehatan 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), warga memang semakin rutin memakai produk kesehatan nonmedis untuk perawatan harian, namun masih ada ketimpangan pemahaman mengenai klasifikasi serta fungsi produk.
Pemegang jenama Kutus Kutus, Fazli Hasniel, turut menyoroti bahwa ekspektasi konsumen sering kali tidak selaras dengan sifat asli produk herbal yang berguna sebagai pendukung dan memerlukan durasi pemakaian jangka panjang.
“Masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan bukan pemahamannya, melainkan produknya,” ujar Fazli dalam keterangannya, Rabu (25/2/2026).
Fazli menilai minimnya literasi ini berakibat pada pertumbuhan pasar herbal yang menjadi tidak merata di lapangan.
Regulasi Pemerintah dan Capaian Ekspor Fitofarmaka
Guna mengatasi tantangan sekaligus memperkuat posisi di kancah global, pemerintah mulai mempertajam regulasi dan riset fitofarmaka. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menegaskan komitmennya dalam mendukung kemandirian farmasi nasional lewat pengembangan obat berbahan alam.
“BPOM menyediakan regulasi dan pedoman untuk memastikan kepatuhan terhadap keamanan, khasiat, dan mutu. Kami juga terus mendorong integrasi obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional,” ujar Taruna Ikrar dalam acara “The 16th Annual Meeting of the World Health Organization – International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines” di Jakarta, dikutip Rabu (22/10/2025).
Langkah nyata di sektor industri telah dijalankan oleh Dexa Group melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS). Mereka konsisten mengembangkan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) berbasis evidence-based medicine selama lebih dari dua dekade lewat standarisasi ketat dan uji klinis.
“Kami sudah mengekspor fitofarmaka Indonesia ke beberapa negara seperti Filipina dan Kamboja,” kata Raymond.
“Tenaga medis di sana menggunakan dan merekomendasikan produk Indonesia karena standar internasional, efikasi, dan safety-nya sudah terbukti,” lanjut dia.
Raymond menjabarkan bahwa portofolio OMAI saat ini telah mencakup terapi kuratif berbasis sains. Produknya bervariasi mulai dari imunomodulator untuk sistem imun, terapi herbal khusus perempuan dengan polycystic ovarian syndrome (PCOS), hingga terapi pemulihan stroke.
Berdasarkan catatan BPOM, dari total 9.600 jenis tumbuhan berkhasiat dan 18.000 produk jamu yang terdaftar, baru ada 71 produk berkategori Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 20 produk berstatus fitofarmaka. Taruna memandang angka ini sebagai peluang emas bagi industri domestik.
“Pertemuan ini merupakan momen penting bagi Indonesia untuk memainkan peran sentral dalam memperkuat sistem pengawasan sekaligus membuka pasar,” kata Taruna.
“China dikenal karena TCM. India dikenal karena Ayurveda. Harapannya, dunia mengenal Indonesia karena kemampuan kita mengubah biodiversitas menjadi obat modern yang diterima secara global,” tutup Raymond.