Industri Farmasi Indonesia Geser Paradigma Penanganan Obesitas Berbasis Biologis

Industri Farmasi Indonesia Geser Paradigma Penanganan Obesitas Berbasis Biologis

Lonjakan kasus obesitas di Indonesia mendorong industri kesehatan dan farmasi mengubah pendekatan dari program diet konvensional menjadi terapi medis berbasis biologis pada Sabtu (9/5/2026). Langkah ini diambil untuk merespons tingginya prevalensi obesitas nasional yang kini menempati peringkat ketiga di Asia Tenggara menurut World Obesity Atlas 2022.

Pergeseran paradigma ini berfokus pada perbaikan mekanisme tubuh daripada sekadar perhitungan kalori. Dilansir dari Bisnis.com, kondisi obesitas kini dipandang sebagai penyakit kompleks yang melibatkan gangguan neuroendokrin pengatur rasa lapar, bukan sekadar persoalan gaya hidup.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) dr. Iflan Nauval menjelaskan bahwa intervensi medis diperlukan karena diet saja sering kali tidak cukup untuk memperbaiki metabolisme yang terganggu.

"Intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja," ujarnya dr. Iflan Nauval, Wakil Sekretaris Jenderal PP PDGKI.

Iflan menambahkan bahwa banyak pasien gagal mempertahankan berat badan ideal karena adanya gangguan biologis pada sistem saraf yang mengatur nafsu makan. Fenomena pikiran obsesif terhadap makanan atau food noise menjadi penghambat utama dalam proses penurunan berat badan.

Dalam perkembangan industri farmasi global, penggunaan terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) mulai menjadi sorotan utama. Novo Nordisk Indonesia kini memperluas edukasi mengenai pemanfaatan teknologi medis ini untuk membantu pasien mengatur sinyal lapar melalui otak.

Data klinis menunjukkan bahwa terapi ini memiliki potensi besar dalam menekan risiko penyakit penyerta lainnya. Terapi GLP-1 RA diklaim mampu membantu sepertiga pasien menurunkan berat badan lebih dari 20 persen serta mereduksi risiko gangguan kardiovaskular hingga 20 persen.

Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia Riyanny Meisha Tarliman menekankan pentingnya keterlibatan tenaga medis profesional dalam menangani kasus obesitas secara komprehensif.

"Dengan memahami bahwa obesitas adalah penyakit kompleks, kita dapat mendorong penanganan yang lebih tepat dan berbasis sains," ujar Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia.

Pertumbuhan permintaan terhadap pengobatan penyakit metabolik ini diprediksi akan terus menjadi motor penggerak industri farmasi di berbagai negara. Pendekatan berbasis sains diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang bagi pasien yang memiliki ketergantungan biologis terhadap asupan makanan berlebih.

Artikel terkait

Rekomendasi