Investor Indonesia Agresif Alihkan Aset ke Properti Malaysia

Investor Indonesia Agresif Alihkan Aset ke Properti Malaysia

Investor asal Indonesia terpantau semakin agresif mengalihkan aset mereka ke pasar properti luar negeri seperti Malaysia dan Singapura akibat depresiasi nilai tukar rupiah yang terus berlangsung. Tren pengalihan instrumen investasi ini dilaporkan telah berkembang selama dua dekade terakhir untuk menjaga nilai kekayaan.

Berdasarkan data yang dilansir dari Market, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot tajam dari kisaran Rp2.350 pada 1996 menjadi Rp17.382 hingga akhir pekan lalu. Pelemahan serupa juga terjadi terhadap ringgit Malaysia yang bergerak dari Rp2.800 per ringgit pada 2010 menjadi lebih dari Rp4.380 saat ini.

Founder dan CEO FAR Capital, Faizul Ridzuan menjelaskan bahwa situasi ekonomi ini menjadi pemicu utama minat pemodal domestik ke pasar properti negeri jiran. Hal tersebut ia sampaikan dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Senin (11/5/2026).

"Banyak investor sudah tahu ini sejak 20 tahun lalu, sehingga mereka ke Singapura, sementara kalangan menengah ke atas lebih memilih Malaysia," kata Faizul, CEO FAR Capital.

Kenaikan nilai properti di kawasan Desa ParkCity, Kuala Lumpur, menjadi salah satu contoh keuntungan signifikan yang diperoleh investor Indonesia. Unit yang dibeli seharga 700.000 ringgit pada 2010 kini bernilai 2,5 juta hingga 3 juta ringgit, atau memberikan potensi keuntungan lebih dari 450 persen jika dikonversi ke rupiah.

Kedekatan geografis, kemiripan budaya, serta harga yang kompetitif dibandingkan Jakarta menjadi alasan kuat minat investor tertuju ke Malaysia. Kawasan Kuala Lumpur dan Johor Bahru menjadi lokasi favorit karena harga yang terjangkau bagi pembeli asing serta tingginya permintaan sewa.

"Investor juga diminta berhati-hati terhadap janji imbal hasil sewa yang terlalu tinggi, termasuk skema guaranteed rental return maupun proyeksi Airbnb yang dinilai terlalu optimistis," ujar Faizul, CEO FAR Capital.

Pembelian properti kini telah bergeser fungsinya dari sekadar diversifikasi menjadi perlindungan aktif terhadap pelemahan nilai tukar sejak 2025. Selain untuk investasi murni, banyak pembeli Indonesia memanfaatkannya sebagai hunian bagi anak yang menempuh pendidikan, rumah liburan, hingga masa pensiun.

Artikel terkait

Rekomendasi