KADIN Net Zero Hub (NZH) memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui kegiatan Member Gathering di Menara KADIN Indonesia, Jakarta, guna mempercepat aksi dekarbonisasi dan transisi emisi nol bersih di kalangan dunia usaha nasional pada 2026.
Pertemuan ini menjadi ajang penguatan kemitraan dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) sebagai sekretariat serta WRI Indonesia sebagai mitra pengetahuan bagi para anggota, sebagaimana dilansir dari Suara.
Data keanggotaan KADIN NZH menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 40 persen sejak tahun 2022, di mana jumlah perusahaan yang bergabung meningkat dari 70 menjadi 100 entitas lintas sektor hingga tahun 2026.
Langkah dekarbonisasi ini selaras dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pengembangan pembangkit energi surya hingga 100 GW dan penguatan regulasi perdagangan karbon melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025.
Shinta Kamdani, Pembina Task Force of KADIN NZH sekaligus WKU Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pengembangan Berkelanjutan KADIN Indonesia, memberikan penegasan mengenai urgensi transformasi ekonomi hijau bagi industri tanah air.
"Dalam kepemimpinan KADIN pada periode ini, kami menempatkan transisi energi dan dekarbonisasi bukan sekadar sebagai isu lingkungan, melainkan sebagai agenda strategis yang sangat menentukan masa depan daya saing industri, ketahanan ekonomi nasional, dan kualitas pertumbuhan Indonesia dalam jangka panjang," ujar Shinta Kamdani.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi dari seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk menjalankan langkah-langkah yang terukur dalam mencapai target rendah karbon tersebut.
"Kami meyakini bahwa transformasi menuju ekonomi rendah karbon bukan lagi pilihan yang dapat ditunda, melainkan sebuah keharusan yang harus dijalankan bersama dengan visi yang jelas, langkah yang terukur, dan kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan," kata Shinta Kamdani.
Terkait aspek operasional, PIC Task Force KADIN NZH Elim Sritaba menjelaskan bahwa pengelolaan emisi merupakan bentuk investasi strategis yang saat ini sudah menjadi kebutuhan mendasar bagi keberlanjutan bisnis.
"Komitmen menuju emisi nol bersih bukan lagi sekadar deklarasi, melainkan investasi strategis yang menentukan daya saing bisnis. Melalui KADIN Net Zero Hub, kami mendorong terbentuknya ekosistem kolaboratif yang membantu perusahaan merumuskan strategi, mengidentifikasi langkah implementasi, serta memastikan pelaporan yang transparan dan kredibel," ujar Elim Sritaba.
Peran strategis wadah ini juga dirasakan oleh pelaku industri dalam menerjemahkan regulasi global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) ke dalam aksi nyata di level operasional perusahaan.
"KADIN NZH telah membantu menerjemahkan komitmen dekarbonisasi ke dalam langkah implementasi yang konkret," ujar Nyoman Pujiani, Vice GM of Operation PT Tata Metal Lestari.
Pujiani menyampaikan aspirasi pelaku usaha agar adanya harmonisasi aturan antar-kementerian guna mendukung produk nasional agar lebih kompetitif di pasar internasional melalui pembiayaan hijau.
"Kolaborasi lintas sektor juga membuka ruang pembelajaran yang relevan bagi PT Tata Metal Lestari. Ke depan, kami berharap KADIN NZH dapat berperan strategis dalam mengharmonisasi regulasi lintas kementerian, membuka akses green financing, serta mendorong penerapan green barrier untuk melindungi industri dalam negeri dan meningkatkan daya saing produk nasional," papar Nyoman Pujiani.
KADIN NZH tercatat telah meluluskan 44 perusahaan melalui Corporate Assistance Program (CAP) dan berencana membuka CAP Batch 4.0 sebagai jalur lanjutan untuk meningkatkan kesiapan pembiayaan program dekarbonisasi perusahaan anggota.