PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkuat sistem elektrifikasi perkeretaapian untuk menjaga keandalan operasional KRL di kawasan metropolitan pada Kamis (21/5/2026). Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat urban yang terus meningkat pesat dalam satu dekade terakhir.
Penggunaan teknologi berbasis listrik dinilai mampu menekan emisi karbon di area perkotaan yang padat. Selain itu, sistem tersebut diklaim dapat mempercepat waktu tempuh sekaligus meningkatkan kapasitas angkut penumpang.
Peningkatan kebutuhan pasokan daya listrik dipicu oleh bertambahnya pusat aktivitas ekonomi baru. Perkembangan kawasan permukiman penyangga kota dan penambahan jumlah perjalanan KRL juga turut memengaruhi stabilitas operasional kereta.
"Pertumbuhan mobilitas masyarakat urban dalam satu dekade terakhir meningkatkan kebutuhan penguatan elektrifikasi perkeretaapian di kawasan metropolitan," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.
Pihak maskapai menjelaskan bahwa sistem elektrifikasi memiliki peran krusial dalam jaringan transportasi modern. Hal ini berkaitan langsung dengan aspek keselamatan, kapasitas perjalanan, hingga sistem persinyalan yang dikelola bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Hubungan.
"Ketika jumlah perjalanan KRL terus meningkat, kebutuhan daya listrik juga ikut bertambah. Penguatan elektrifikasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan operasional perjalanan, mendukung sistem persinyalan, serta memastikan perjalanan KRL tetap berjalan aman dan andal di lintas dengan trafik yang semakin padat," ujar Anne Purba.
Berdasarkan data yang dilansir dari Money, jumlah pengguna KRL melonjak dari 257 juta perjalanan pada 2015 menjadi 401 juta perjalanan pada 2025. Pertumbuhan pengguna pascapandemi sempat menyentuh angka 50 persen pada 2022 dan naik kembali sebesar 31 persen pada 2023.
Kenaikan volume penumpang diikuti oleh penambahan frekuensi perjalanan harian dari 881 menjadi 1.063 perjalanan per hari. Lintas Bogor Line mencatat frekuensi tertinggi dengan 299 perjalanan, diikuti Bekasi Line sebanyak 232 perjalanan dan Serpong Line sebanyak 204 perjalanan sehari.
"Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan kapasitas dan stabilitas sistem operasi yang semakin besar pada lintas-lintas perkotaan dengan trafik padat," jelas Anne Purba.
Kepadatan jarak antar-kereta atau headway menuntut dukungan infrastruktur kelistrikan yang jauh lebih kokoh. Manajemen KAI terus berkoordinasi dengan DJKA Kementerian Perhubungan demi menekan risiko gangguan perjalanan di lintas padat melalui penguatan gardu listrik.
"Elektrifikasi berkaitan erat dengan kemampuan sistem menghadapi pertumbuhan perjalanan. Ketika mobilitas urban meningkat sangat cepat, infrastruktur daya perlu diperkuat agar operasional tetap stabil dan risiko gangguan perjalanan dapat ditekan," ujar Anne Purba.
Kawasan Jabodetabek kini tercatat sebagai salah satu wilayah dengan mobilitas urban terbesar di Asia Tenggara yang mencapai 349,3 juta perjalanan pada 2025. Angka tersebut jauh melampaui wilayah Bandung dengan 18,7 juta, Surabaya dengan 16 juta, dan Yogyakarta dengan 10,1 juta perjalanan.
Transformasi layanan perkeretaapian terus digulirkan melalui digitalisasi, revitalisasi stasiun, hingga integrasi antarmoda. Pembangunan infrastruktur elektrifikasi di kawasan Stasiun Jatake juga tengah disiapkan untuk memperkuat suplai daya di masa depan.
"Elektrifikasi menjadi bagian penting dalam mendukung seluruh sistem tersebut agar mampu berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan," jelas Anne Purba.
Langkah strategis ini diproyeksikan untuk mengantisipasi optimalisasi headway menuju pusat aktivitas baru, kawasan bisnis, serta hunian terpadu. Penguatan sistem kelistrikan kereta dipandang sebagai investasi jangka panjang demi meningkatkan konektivitas perkotaan.
"Transportasi berbasis rel saat ini berkembang menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan. Karena itu, pembangunan elektrifikasi perlu dipandang sebagai penguatan sistem transportasi jangka panjang untuk menjaga kapasitas layanan, mendukung efisiensi perjalanan masyarakat, serta meningkatkan kualitas konektivitas kawasan urban," tegas Anne Purba.