Keterlambatan deteksi kanker payudara pada perempuan Indonesia memicu dampak serius terhadap stabilitas ekonomi keluarga akibat biaya pengobatan yang sangat tinggi. Berdasarkan informasi pada Rabu (13/5/2026), keterlambatan ini mengakibatkan peluang kesembuhan menurun drastis dan membengkaknya beban finansial rumah tangga.
Data dari Prudential Indonesia yang dilansir dari Money menunjukkan bahwa 70 persen kasus kanker payudara di tanah air baru teridentifikasi saat mencapai stadium lanjut. Tingginya angka keterlambatan ini berbanding lurus dengan risiko kerugian ekonomi yang harus ditanggung oleh pasien maupun keluarganya.
"Perawatan stadium lanjut pada kanker payudara, dapat menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah," kata Prudential Indonesia.
Perusahaan tersebut menekankan bahwa peran perempuan sangat krusial dalam menopang ekonomi keluarga, selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat 14,37 persen perempuan Indonesia merupakan tulang punggung utama keluarga. Banyaknya tanggung jawab sering kali membuat kesehatan pribadi terabaikan.
"Dengan begitu banyak tanggung jawab yang dipikul, sering kali perhatian perempuan terfokus pada orang lain, sehingga kepentingan diri sendiri, terutama kesehatan, kerap terlewatkan," tulis Prudential Indonesia.
Selain biaya medis yang masif, pasien kanker stadium lanjut terancam kehilangan produktivitas kerja karena harus menjalani perawatan intensif jangka panjang. Sebaliknya, penanganan pada tahap awal menawarkan harapan hidup yang jauh lebih tinggi bagi para penyintas.
"Padahal, apabila kanker payudara ditangani dari stadium awal, tingkat kelangsungan hidup penderita sampai 5 tahun ke depan bisa sampai 99 persen," tulis perusahaan tersebut.
Hambatan utama deteksi dini mencakup minimnya informasi gejala awal serta kekhawatiran masyarakat terhadap biaya pemeriksaan medis. Hal ini menjadi perhatian serius bagi penyedia layanan kesehatan dan perlindungan.
"Prudential Indonesia percaya bahwa setiap perempuan Indonesia berhak atas perlindungan yang menyeluruh, bukan hanya saat risiko terjadi, tetapi sejak langkah pencegahan dimulai," ujar perseroan.
Kementerian Kesehatan menganjurkan deteksi dini melalui metode SADARI (pemeriksaan mandiri) setiap bulan setelah menstruasi, serta SADANIS (pemeriksaan klinis) secara berkala. Skrining mammografi juga direkomendasikan bagi perempuan di atas usia 40 tahun untuk mendeteksi benjolan keras yang tidak beraturan.
"Ketiga langkah tersebut dapat dilakukan secara rutin sebagai langkah awal pencegahan kanker payudara, minimal bisa dilakukan 1-2 tahun sekali," demikian tertulis dalam informasi media tersebut.
Langkah pencegahan tambahan juga mencakup penerapan pola hidup sehat secara konsisten. Masyarakat diimbau untuk rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta menghindari konsumsi rokok dan alkohol guna meminimalisir risiko terserang penyakit mematikan ini.