Perusahaan data dan analitik pemasaran global, Kantar, kembali mengadakan studi tahunan bertajuk Most Loved Ramadan Ads 2026. Riset ini bertujuan untuk memetakan iklan Ramadan yang memiliki resonansi paling kuat di kalangan masyarakat Indonesia.
Seperti dikutip dari Medcom, studi ini berfungsi sebagai bentuk apresiasi bagi brand sekaligus merekam cara komunikasi pemasaran dalam membangun keterikatan emosional, relevansi budaya, serta dampaknya terhadap persepsi konsumen.
Riset Most Loved Ramadan Ads sendiri telah berjalan secara konsisten sejak pertama kali diselenggarakan pada 2018. Penelitian ini terus menyoroti perilaku serta respons nyata publik terhadap berbagai kampanye iklan di bulan suci.
Dalam pelaksanaan studi tahun ini, Kantar menerapkan pendekatan multi-metode demi mendapatkan hasil yang komprehensif. Proses penilaian melibatkan survei terhadap 1.000 responden di Indonesia, wawancara mendalam, hingga analisis percakapan di media sosial.
Terdapat empat indikator utama yang digunakan untuk menilai setiap iklan, yaitu emotional connection, enjoyment, meaningfulness, dan brand impact. Parameter ini dipakai untuk melihat sejauh mana kampanye mampu menyentuh aspek emosi sekaligus memperkuat citra merek.
Melalui metode tersebut, Kantar tidak sekadar mengukur tingkat popularitas suatu iklan. Dampak emosional mendalam serta relevansi nyata yang dirasakan oleh audiens menjadi fokus utama dalam penilaian.
Relevansi Budaya Menjadi Kunci Sukses
Hasil dari studi komprehensif ini dipaparkan dalam sebuah forum eksklusif yang bertempat di Raffles Jakarta. Acara tersebut dihadiri oleh para pemimpin industri, termasuk pemilik brand, pemasar, pimpinan agensi, hingga eksekutif tingkat C-level dari berbagai sektor bisnis.
Creative Solution Lead Kantar Indonesia, Ummu Hani, memberikan penjelasan mengenai perkembangan komunikasi Ramadan di tanah air. Menurutnya, strategi periklanan saat ini telah bergerak melampaui teknik bercerita konvensional.
Kampanye yang dinilai efektif kini wajib merefleksikan pengalaman riil dari konsumen. Selain itu, iklan tersebut juga harus mampu menghadirkan kedalaman emosional serta keterikatan budaya yang kuat.
“Komunikasi Ramadan di Indonesia terus berkembang, tidak hanya mengandalkan storytelling, tetapi juga kedalaman relevansi emosional dan budaya,” ujar Hani.
Temuan dari riset ini menegaskan bahwa kesuksesan iklan Ramadan tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan menarik perhatian publik. Kemampuan untuk membangun makna yang mendalam serta koneksi erat dengan kehidupan sehari-hari konsumen menjadi faktor penentu utama.