Kemenkes Laporkan 23 Kasus Hantavirus di Indonesia Sejak 2024

Kemenkes Laporkan 23 Kasus Hantavirus di Indonesia Sejak 2024

Kementerian Kesehatan RI melaporkan temuan 23 kasus positif Hantavirus di Indonesia sepanjang periode tahun 2024 hingga pekan ke-16 Mei 2026. Infeksi yang didominasi oleh jenis Seoul Virus (SEOV) ini memicu penyakit hemorrhagic fever renal syndrome (HFRS) dan ditularkan melalui tikus got cokelat.

Situasi ini mengemuka saat otoritas kesehatan global memantau wabah Hantavirus strain Andes di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan tiga kematian hingga Mei 2026. Departemen Kesehatan AS mengevakuasi 17 warga negaranya dari kapal tersebut menuju Nebraska untuk menjalani penilaian klinis ketat pada Minggu (10/5/2026).

Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni menegaskan perbedaan karakteristik virus yang ditemukan di dalam negeri dengan yang mewabah di kapal pesiar tersebut. Menurutnya, jenis Hantavirus di Indonesia secara spesifik menyerang organ ginjal, bukan sistem pernapasan.

"Virus Hanta yang ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS. Sekali lagi, berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius," ujar Andi Saguni, Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI.

Data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur memperkuat laporan tersebut dengan konfirmasi satu pasien di wilayahnya yang sempat salah terdiagnosis sebagai penderita leptospirosis pada Januari 2026. Pasien dewasa tersebut telah dinyatakan sembuh total setelah menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soetomo.

"Kalau data dari Kemenkes ada satu pasien bulan Januari. Tapi pasiennya sudah baikan, sudah sembuh," kata dr Erwin, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur.

Otoritas kesehatan Amerika Serikat melaporkan perkembangan medis dari penumpang kapal MV Hondius yang menunjukkan risiko penularan antarmausia pada varian tertentu. Satu penumpang dipastikan positif terinfeksi, sementara delapan kasus suspek lainnya masih dalam pantauan ketat tim medis khusus.

"Setibanya di masing-masing fasilitas, setiap individu akan menjalani penilaian klinis serta mendapatkan perawatan dan dukungan yang sesuai berdasarkan kondisi mereka," kata departemen tersebut, merujuk pada Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.

Berbeda dengan varian Andes yang sangat mematikan, varian Seoul di Indonesia memiliki tingkat kematian global sekitar 1-5 persen. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran, air liur, atau benda yang terkontaminasi sekresi tikus yang terinfeksi, namun dipastikan tidak menular antarmausia.

Artikel terkait

Rekomendasi