Kemenkes Laporkan 23 Kasus Hantavirus dan Pantau Risiko Global

Kemenkes Laporkan 23 Kasus Hantavirus dan Pantau Risiko Global

Kementerian Kesehatan melaporkan temuan 23 kasus infeksi hantavirus jenis Seoul Virus di sembilan provinsi Indonesia dalam kurun tiga tahun terakhir hingga Jumat, 8 Mei 2026. Data tersebut menunjukkan tiga pasien meninggal dunia dengan tingkat fatalitas kasus mencapai 13 persen.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebutkan sebaran kasus terbanyak berada di DKI Jakarta dan DIY masing-masing enam kasus, disusul Jawa Barat lima kasus. Pasien umumnya bekerja di sektor yang bersentuhan dengan habitat tikus seperti petugas kebersihan, petani, dan pekerja lab.

Aji menekankan bahwa infeksi Seoul Virus di Indonesia memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan Andes Virus yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius. Meski demikian, ia mengonfirmasi bahwa penularan dapat terjadi melalui gigitan maupun menghirup debu yang terkontaminasi sekresi hewan pengerat.

"Mereka gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau lemas, dan jaundice yakni tubuh menguning," kata Aji Muhawarman.

Di kancah internasional, WHO sedang memantau klaster hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius yang membawa penumpang dari Argentina sejak 1 April. Epidemiolog WHO, Maria van Kerkhove, memberikan penjelasan mengenai perbedaan karakteristik virus ini dengan wabah global lainnya.

"Ini bukan Covid, ini bukan influenza, cara penyebarannya sangat, sangat berbeda," ujar Maria van Kerkhove.

Hingga saat ini, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dari total delapan kasus yang dicurigai terkait kapal tersebut. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa dua pasien positif pertama sempat melakukan tur pengamatan burung di Amerika Selatan.

"Mereka mengunjungi lokasi-lokasi yang menjadi habitat spesies tikus yang dikenal membawa virus tersebut," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Di Singapura, dua warga yang sempat berada di kapal tersebut kini menjalani karantina di National Centre for Infectious Diseases (NCID). Badan Penyakit Menular Singapura (CDA) menyatakan risiko terhadap masyarakat umum masih tergolong rendah.

"Seorang mengalami pilek namun dalam kondisi baik, sementara satu lainnya tidak menunjukkan gejala. Risiko terhadap masyarakat umum di Singapura saat ini rendah," ujar CDA.

Pihak berwenang Singapura akan terus melakukan pemantauan ketat terhadap kedua individu tersebut hingga masa inkubasi maksimal berakhir. Langkah ini diambil karena adanya riwayat perjalanan yang bersinggungan dengan pasien terkonfirmasi.

"Mereka akan menjalani pemantauan melalui telepon hingga total 45 hari sejak paparan terakhir, yang merupakan masa inkubasi maksimum hantavirus," tutur CDA.

Tabel Sebaran Kasus Hantavirus di Indonesia (2023-2026)
ProvinsiJumlah Kasus
DKI Jakarta6
DIY6
Jawa Barat5
Sumatera Barat1
Banten1
Jawa Timur1
NTT1
Kalimantan Barat1
Sulawesi Utara1

Artikel terkait

Rekomendasi