Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Tewaskan Satu Orang

Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Tewaskan Satu Orang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan kasus hantavirus mematikan di sebuah kapal pesiar yang sedang melintasi Samudra Atlantik pada April 2026. Infeksi virus yang ditularkan melalui hewan pengerat ini dilaporkan telah mengakibatkan satu orang penumpang meninggal dunia dan memicu pengawasan kesehatan ketat di atas kapal.

Kematian akibat virus zoonosis ini dialami oleh seorang wanita berkebangsaan Belanda pada 27 April. Selain korban jiwa, dilansir dari Lifestyle, terdapat penumpang lain asal Inggris yang terinfeksi dan harus segera dievakuasi menuju Johannesburg, Afrika Selatan, guna mendapatkan perawatan medis intensif.

Kapal pesiar yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions tersebut mengangkut sekitar 150 orang saat identifikasi kasus berlangsung. Pihak otoritas kesehatan memantau kondisi dua anggota kru yang menunjukkan gejala pernapasan, dengan salah satu di antaranya dilaporkan dalam kondisi cukup berat.

Hantavirus masuk ke tubuh manusia melalui paparan material dari tikus atau mencit yang terkontaminasi. Penularan utama terjadi saat seseorang menghirup partikel halus dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang sudah mengering dan tercampur dengan debu di udara.

Risiko penularan ini menjadi perhatian serius bagi para pakar kesehatan, terutama terkait mekanisme masuknya virus ke sistem pernapasan manusia melalui udara di lingkungan tertutup dengan ventilasi yang buruk.

"Artinya, virus dapat masuk ke tubuh ketika seseorang menghirup partikel halus dari urine atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu." jelas Dicky Budiman, Epidemiolog dari Griffith University Australia.

Dicky menambahkan bahwa selain melalui pernapasan, sentuhan pada permukaan yang terkontaminasi atau gigitan tikus juga bisa menjadi jalur infeksi. Namun, ia menekankan bahwa penularan antarmanusia merupakan kejadian yang sangat langka dan hanya ditemukan pada strain virus tertentu.

Di Indonesia, tren kasus hantavirus masih terpantau rendah namun tetap dalam pengawasan Kementerian Kesehatan. Data hingga pertengahan 2025 menunjukkan adanya delapan kasus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) di wilayah DI Yogyakarta, Jawa Barat, NTT, dan Sulawesi Utara.

Infeksi ini terbagi menjadi dua manifestasi klinis utama, yaitu HFRS yang menyerang fungsi ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Tingkat fatalitas HPS tercatat sangat tinggi, mencapai angka kematian 38 hingga 40 persen bagi penderitanya.

Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan vaksin atau obat antivirus khusus untuk menangani hantavirus secara langsung. Penanganan di rumah sakit sepenuhnya bergantung pada terapi suportif seperti penggunaan ventilator atau mesin dialisis bagi pasien yang mengalami gagal ginjal kronis.

Artikel terkait

Rekomendasi