Indonesia saat ini mencatat sekitar 1,4 juta pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau Lupus. Tingkat mortalitas akibat penyakit ini mencapai 8,1% dan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, seperti dilansir dari Medcom.
Banyak pasien di dalam negeri terlambat mendapatkan diagnosis medis. Kepastian mengenai kondisi kesehatan tersebut bahkan baru diketahui ketika penderita sudah mengalami kerusakan organ tubuh.
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang menyerang berbagai organ, mulai dari kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini muncul saat sistem kekebalan tubuh menyerang organ sendiri akibat kehilangan kemampuan membedakan jaringan sehat, sehingga memicu peradangan kronis. Manifestasi klinis SLE sangat beragam dan kerap menyerupai penyakit lain.
Secara global, Lupus menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi. Kendati demikian, identifikasi optimal belum tercapai di berbagai negara karena keterbatasan data epidemiologi.
Data epidemiologi global selama 30 tahun terakhir (1992 hingga 2022) menunjukkan insidensi Lupus diperkirakan mencapai 5,14 per 100.000 orang-tahun. Sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahun secara global, sedangkan insidensi di Indonesia diperkirakan mencapai 7,4 per 100.000 orang per tahun.
Indonesia menempati peringkat keempat secara global dalam jumlah perempuan usia produktif (15-45 tahun) dengan SLE. Kondisi ini menjadikan Lupus bukan hanya persoalan medis, melainkan juga isu sosial dan ekonomi yang memengaruhi produktivitas serta peran perempuan dalam keluarga.
Karakteristik Gejala dan Pentingnya Diagnosis Dini
Gejala penyakit ini dikenal tidak spesifik dan sering kali muncul secara bertahap maupun tiba-tiba. Karakteristik tersebut berdampak pada panjangnya proses diagnosis medis yang harus dijalani pasien.
"SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf," ujar dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR dalam talkshow memperingati Hari Lupus Sedunia bertemakan From Burden to Living Well yang diinisiasi AstraZeneca, Selasa 26 Mei 2026.
"Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang," sambung dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR.
Peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah krusial agar penanganan tepat dapat segera diberikan. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mendorong pemahaman penyakit yang lebih baik.
Menurut Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, ini merupakan komitmen untuk memajukan layanan bagi pasien dengan penyakit kronis dan kompleks melalui inovasi, riset, dan kolaborasi. Untuk SLE, peningkatan kesadaran masyarakat merupakan langkah penting agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat.
"Melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, kami berharap dapat mendukung pemahaman penyakit yang lebih baik, diagnosis yang lebih dini, serta penanganan yang lebih tepat, sehingga semakin banyak penyandang SLE di Indonesia dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik," kata Esra Erkomay.