Jumlah warga Singapura yang didiagnosis menderita penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) diperkirakan melampaui angka 200 ribu orang. Dilansir dari Detik Health, data tersebut dihimpun dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Kementerian Kesehatan Singapura melalui laporan National Population Health Survey (NPHS) pada Oktober 2025 mengungkapkan tren kenaikan yang tajam. Prevalensi CKD pada penduduk usia 18 hingga 74 tahun kini menyentuh angka 13,9 persen.
Persentase tersebut menunjukkan lonjakan besar jika dibandingkan dengan periode 2019-2020 yang hanya berada di level 8,7 persen. Kesimpulan ini diperoleh setelah otoritas kesehatan melakukan pemeriksaan mendalam terhadap sampel darah dan urine para responden.
Berdasarkan temuan survei NPHS, riwayat kesehatan pasien menjadi faktor penentu utama risiko kerusakan ginjal. Penderita yang mengidap diabetes sekaligus hipertensi secara bersamaan menempati posisi tertinggi dengan angka prevalensi mencapai 47,4 persen.
Direktur medis National Kidney Foundation, Dr Jason Choo, menjelaskan bahwa perjalanan penyakit CKD terbagi ke dalam lima tingkatan atau stadium yang berbeda untuk menggambarkan tingkat keparahan fungsi organ.
"Tahap 1 berarti terdapat beberapa kerusakan ginjal, seperti adanya protein dalam urine, tetapi organ tersebut masih berfungsi,"ujar Dr Jason Choo yang dikutip dari The Straits Times. Kondisi akan semakin kritis pada stadium 5 atau gagal ginjal stadium akhir, di mana pasien mutlak memerlukan tindakan dialisis hingga transplantasi organ.
Tantangan Deteksi Dini dan Mitos Gejala
Direktur Chinatown Family Medicine Clinic, Dr Jonathan Yeo, menyoroti sifat penyakit ginjal yang kerap tersembunyi. Sering kali, pengidap tidak merasakan keluhan fisik apa pun sampai fungsi ginjalnya benar-benar menurun drastis ke stadium lanjut.
"Pada saat mereka menyadari ginjal mereka telah melemah secara signifikan, kerusakan tersebut sudah tidak dapat dipulihkan lagi,"beber Dr Jonathan Yeo. Ia juga memberikan edukasi mengenai miskonsepsi gejala yang selama ini beredar di masyarakat luas.
Salah satu yang diluruskan adalah anggapan bahwa gangguan ginjal selalu ditandai dengan nyeri punggung. Padahal, mayoritas penderita CKD bersifat asimtomatik atau tanpa gejala fisik yang nyata hingga mencapai fase kritis.
"CKD sebagian besar tidak menunjukkan gejala sampai pasien mencapai stadium akhir gagal ginjal, jadi mentalitas 'tidak ada gejala berarti saya pasti sehat' adalah keliru,"kata Dr Jonathan Yeo.