Kawan Lama Group mempercepat pengembangan lini bisnis manufaktur untuk memperkuat ekosistem usaha serta meningkatkan efisiensi rantai pasok dalam menghadapi persaingan produk impor. Langkah agresif ini dilakukan melalui optimalisasi fasilitas produksi domestik, sebagaimana dilansir dari Market pada Senin (11/5/2026).
Strategic Marketing Services Director Kawan Lama Group, Adeline Ausy Setiawan menjelaskan bahwa sektor manufaktur kini menjadi pilar utama yang dipacu pertumbuhannya. Upaya ini bertujuan agar kebutuhan internal grup dapat dipenuhi secara mandiri melalui produksi lokal.
“Pilar yang ingin kami accelerate lebih kencang adalah manufacturing, karena itu memang kita perlukan,” ujar Ausy kepada Bisnis, Senin (11/5/2026).
Saat ini, perusahaan mengelola tiga fasilitas produksi utama yang berlokasi di Cikande dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. Pabrik di Cikande menempati lahan seluas 110.000 meter persegi, sedangkan fasilitas di Kendal memiliki luas 31.000 meter persegi yang telah beroperasi selama satu tahun.
Meskipun awalnya hanya memproduksi bantalan furnitur, pabrik di Kendal kini telah memperluas lini produksinya. Berbagai kategori produk mulai dari matras, sofabed, lampu, hingga perlengkapan keamanan seperti sepatu keselamatan dan brankas diproduksi untuk menyuplai unit penjualan grup.
“Terus merambah ke matras, sofabed, kita one of the biggest producer sofabed di Indonesia. Sekarang kita sudah mulai macam-macam juga. Kita juga buat sepatu safety,” katanya.
Vice President of Corporate Affairs, Corporate Communications & Sustainability Kawan Lama Group, Melinda Pudjo menekankan pentingnya adopsi teknologi untuk bersaing dengan produk impor. Perusahaan menempuh jalur kerja sama joint venture (JV) dengan mitra internasional untuk mempercepat penguasaan aspek teknis dan robotik.
“Jadi memang percepatan transfer knowledge itu penting. Ada beberapa JV juga. Ahlinya datang, kita belajar, termasuk robotiknya,” kata Melinda.
Melinda menambahkan bahwa integrasi antara pabrik dan jaringan distribusi ritel seperti Informa dan AZKO menjadi nilai tambah perusahaan. Keberadaan ekosistem ini memberikan kepastian pasar bagi setiap barang yang dihasilkan oleh divisi manufaktur internal.
“Ketika kita bicara produksi, banyak pabrik bingung mau jual ke mana. Makanya kami bicara ekosistem,” ujarnya.
Terkait tantangan efisiensi, manajemen mengakui bahwa barang impor masih berperan dalam menjaga keseimbangan biaya. Namun, penguatan kapasitas industri nasional tetap menjadi visi jangka panjang perusahaan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan daya saing ekspor.
“Harapannya kita punya scalability itu, kita punya transfer knowledge, kita bikin orang Indonesia lebih pintar, ada investasi dari luar, kemudian kita juga bisa ekspor. Beberapa produk juga sudah kami ekspor ke luar,” katanya.
Berdasarkan data profil perusahaan, Kawan Lama Manufacturing saat ini telah memproduksi beragam kebutuhan rumah tangga dan perkantoran. Produk-produk tersebut meliputi kursi kantor, bean bag, sprei, kompor gas portabel, hingga peralatan perawatan taman seperti alat gunting rumput.