KB Bank Sesuaikan Suku Bunga Kredit Secara Selektif

KB Bank Sesuaikan Suku Bunga Kredit Secara Selektif

PT KB Bank Indonesia Tbk. menerapkan kebijakan penyesuaian suku bunga kredit secara selektif dan tidak agresif pada seluruh segmen pembiayaan meski tren bunga acuan mengalami penurunan pada Minggu (10/5/2026). Dilansir dari Finansial, bank dengan kode saham BBKP ini mempertimbangkan karakteristik risiko serta tenor yang berbeda pada tiap portofolio kredit perusahaan.

Direktur Utama KB Bank, Kurnady Darma Lie, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk memastikan stabilitas profitabilitas dan likuiditas perseroan tetap terjaga di tengah dinamika makroekonomi. Penyesuaian dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu kualitas aset yang dimiliki bank.

"KB Bank senantiasa menyesuaikan kebijakan suku bunga kredit secara selektif dan bertahap, dengan mempertimbangkan dinamika pasar serta kondisi makroekonomi secara prudent," ujar Kurnady Darma Lie, Direktur Utama KB Bank.

Keputusan untuk tidak menyeragamkan penurunan bunga didasari pada perbedaan profil risiko di setiap lini pembiayaan. Kurnady menjelaskan bahwa manajemen risiko menjadi prioritas utama dalam menentukan besaran bunga bagi nasabah.

"Setiap segmen portofolio memiliki karakteristik risiko dan tenor yang berbeda, sehingga implementasi penyesuaian suku bunga tidak dapat dilakukan secara seragam," katanya Kurnady Darma Lie, Direktur Utama KB Bank.

Risiko terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga menjadi pertimbangan serius bagi manajemen. Hal ini berkaitan dengan potensi selisih kecepatan antara penurunan imbal hasil aset dan biaya dana.

"Penurunan bunga kredit yang terlalu agresif berpotensi memberikan tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM), terutama apabila penurunan yield aset berlangsung lebih cepat dibandingkan penurunan cost of fund," ujarnya Kurnady Darma Lie, Direktur Utama KB Bank.

Sebagai langkah antisipasi, KB Bank fokus memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan komposisi dana murah atau CASA. Strategi ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan portofolio yang sehat dalam jangka panjang.

"KB Bank tetap mengedepankan kualitas aset dan pertumbuhan yang sehat dengan terus mengoptimalkan struktur pendanaan, meningkatkan komposisi dana murah [CASA], serta fokus pada risk-adjusted return agar pertumbuhan portofolio tetap memberikan kontribusi positif terhadap margin dan profitabilitas jangka panjang," katanya Kurnady Darma Lie, Direktur Utama KB Bank.

Mengenai fenomena undisbursed loan atau kredit yang belum ditarik oleh debitur, Kurnady menilai hal tersebut dipengaruhi oleh sikap waspada pelaku usaha. Kondisi arus kas dan prospek bisnis per sektor menjadi faktor penentu realisasi pencairan dana.

"Realisasi pencairan kredit tetap dipengaruhi oleh dinamika permintaan, kesiapan proyek, kondisi arus kas debitur, serta prospek bisnis di masing-masing sektor," ujar Kurnady Darma Lie, Direktur Utama KB Bank.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total undisbursed loan perbankan nasional mencapai Rp2.527,46 triliun pada Maret 2026, atau tumbuh 7,35 persen secara tahunan. Meski demikian, secara persentase terhadap total kredit, angka ini menurun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan optimisme bahwa angka tersebut akan menyusut seiring meningkatnya keyakinan pelaku usaha. Perbankan nasional dinilai masih memiliki ruang besar untuk mendorong pembiayaan pada sektor riil.

Artikel terkait

Rekomendasi