Pakar budidaya perikanan dari IPB University, Dr Ir Cecilia Eny Indriastuti, M.Si, menjelaskan bahwa praktik budidaya lele modern saat ini telah menggunakan sistem terkontrol yang menjamin keamanan konsumsi pada Kamis (23/4/2026). Inovasi teknologi ini sekaligus membantah anggapan lama masyarakat mengenai lingkungan hidup ikan lele yang kotor.
Kualitas ikan lele di pasar saat ini sangat bergantung pada proses pemeliharaannya yang mencakup penggunaan air bersih dan pakan terstandar. Dilansir dari Detik Health, perkembangan teknologi perikanan memungkinkan risiko kontaminasi pada ikan ditekan seminimal mungkin selama masa pertumbuhan.
"Anggapan tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi budidaya saat ini. Budidaya saat ini lele dipelihara dengan menggunakan air bersih secara intensif dengan berbagai macam metode teknologi," ujar Dr Ir Cecilia Eny Indriastuti, M.Si, pakar budidaya perikanan dari IPB University.
Cecilia menekankan pentingnya transparansi asal-usul benih dan kecukupan nutrisi pakan untuk menghasilkan produk perikanan yang berkualitas tinggi. Penggunaan teknologi seperti probiotik hingga sistem resirkulasi air menjadi standar baru dalam operasional tambak lele intensif.
"Dipelihara di wadah terkontrol, dari air sumber/ sumur atau mengalir, pemilihan benih unggul berkualitas, mengetahui asal usul induk, dipelihara dengan pakan yang berkecukupan nutrient sesuai kebutuhan lele, dengan penggunaan teknologi (probiotik, bioflok, Recirculating Aquaculture System)," jelas Cecilia.
Mengenai kekhawatiran masyarakat terhadap bahan pakan, ia meluruskan bahwa produk sampingan dari pengolahan pangan manusia tetap harus melalui proses pengolahan ketat. Hal ini dilakukan agar pakan tersebut memenuhi standar keamanan sebelum diberikan kepada ikan.
"Jadi beberapa bahan pakan boleh dibilang merupakan 'limbah' atau produk samping dari pengolahan bahan pangan manusia, yang kemudian diproses untuk memenuhi standar pakan yang baik," terangnya.
Pakan yang berkualitas tinggi memiliki peran ganda, yakni mempercepat pertumbuhan ikan dan menjaga ekosistem kolam tetap sehat. Efisiensi penyerapan nutrisi oleh usus ikan akan memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan bagi konsumen akhir.
"Pakan sangat mempengaruhi pertumbuhan ikan dan kualitas daging ikan lele. Pakan yang berkualitas akan dicerna lebih baik oleh usus lele sehingga pertumbuhan lele lebih cepat dan penggunaan pakan lebih efisien," jelas Cecilia.
Selain faktor pertumbuhan, manajemen pakan yang tepat dapat mencegah penumpukan amonia di dalam kolam. Lingkungan yang minim polusi hasil sekresi ikan akan memberikan keuntungan lebih bagi para pembudidaya karena tingkat kesehatan ikan yang terjaga.
"Di samping itu penggunaan pakan yang efisien dapat mereduksi buangan (limbah) akibat pakan tidak termakan dan hasil sekresi akibat pakan yang tidak tercerna yang akan merusak lingkungan hidup ikan lele (meningkatkan amonia). Dengan demikian akan lebih menguntungkan bagi pembudidaya lele," ujarnya.
Ikan lele saat ini dipandang sebagai sumber nutrisi yang setara dengan ikan premium seperti salmon. Kandungan gizinya yang tinggi menjadikannya salah satu pilihan pangan lokal yang sangat direkomendasikan untuk kesehatan masyarakat.