Kekhawatiran Beban Utang Valas Multifinance Akibat Rupiah Melemah Dinilai Masih Terjaga

Kekhawatiran Beban Utang Valas Multifinance Akibat Rupiah Melemah Dinilai Masih Terjaga

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mulai memicu kekhawatiran terkait beban utang valuta asing atau valas pada perusahaan multifinance. Meski demikian, risiko langsung terhadap industri ini dinilai tetap terjaga karena mayoritas perusahaan telah menerapkan strategi lindung nilai atau hedging, dilansir dari Keuangan.

Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO Danan Dito menyampaikan bahwa porsi utang valas perusahaan multifinance sejauh ini tidak terlalu besar. Rata-rata utang valas multifinance berada di kisaran 10% hingga 25% dari total pendanaan.

"Setahu saya, utang valas perusahaan multifinance cukup bervariasi, namun tidak terlalu besar, antara 10% sampai 25%. Biasanya oleh perusahaan multifinance posisi tersebut juga di-hedge, sehingga fluktuasi nilai mata uang asing tidak langsung berdampak pada kemampuan bayar utang," ujar Danan kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).

Instrumen cross currency swap atau CCS umumnya digunakan oleh perusahaan multifinance untuk melakukan lindung nilai terhadap kewajiban valas. Melalui strategi ini, pelaku industri diyakini dapat menjaga biaya pendanaan tetap terkontrol meskipun rupiah berfluktuasi.

Perusahaan multifinance besar seperti Adira Finance, Astra Sedaya Finance, dan Federal International Finance juga telah menerapkan diversifikasi sumber pendanaan serta strategi hedging. Langkah tersebut membuat mereka tidak langsung terpapar risiko pelemahan rupiah maupun kenaikan suku bunga.

"Sudah belajar dari krisis sebelumnya, biasanya perusahaan multifinance dalam portofolio kami tidak mau open position terhadap dollar AS atau mata uang asing lainnya. Jadi biasanya di-hedging supaya biayanya terkontrol," katanya.

Walaupun dampak langsung terhadap kewajiban valas tergolong terbatas, Danan melihat pelemahan rupiah tetap berpotensi menekan bisnis multifinance dari sisi makroekonomi. Penurunan nilai tukar rupiah dapat menaikkan biaya impor barang dan mendorong kenaikan biaya hidup masyarakat, sehingga berisiko mengganggu kemampuan bayar debitur.

Hingga saat ini, situasi tersebut belum memengaruhi outlook industri multifinance secara keseluruhan. PEFINDO masih mempertimbangkan fundamental industri yang dinilai cukup kuat, baik dari aspek permodalan, kualitas aset, maupun likuiditas.

"Namun memang kami pantau terus keadaan di pasar maupun kondisi makroekonomi karena berpotensi memberikan tekanan," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi