Hantavirus sering kali dianggap sebagai ancaman kesehatan yang hanya terjadi di luar negeri, namun faktanya virus ini telah lama menginfeksi masyarakat di Indonesia. Keberadaan patogen yang dibawa oleh hewan pengerat ini sebenarnya sudah terdeteksi di tanah air sejak era 1980-an.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis laporan terkait Perkembangan Situasi Penyakit Infeksi Emerging hingga Minggu Epidemiologi ke-16 Tahun 2026 yang berakhir pada 25 April 2026. Berdasarkan data yang dikutip dari Lifestyle, ditemukan puluhan kasus infeksi tersebut dalam dua tahun terakhir.
Tercatat sebanyak 23 kasus terkonfirmasi hantavirus telah dilaporkan sepanjang periode 2024 hingga pertengahan April 2026. Sebaran infeksi ini ditemukan di sembilan wilayah provinsi yang mencakup DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara.
Selain itu, temuan kasus juga dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Timur, Sumatra Barat, Banten, Jawa Timur, serta Kalimantan Barat. Meski ancaman hantavirus nyata, jenis yang mendominasi di Indonesia memiliki karakteristik klinis yang berbeda dengan kasus yang sempat viral di kapal pesiar mancanegara.
Varian virus di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal. Kondisi ini berbeda dengan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang cenderung menyerang sistem pernapasan dan paru-paru pasien.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, memberikan pandangannya mengenai situasi terkini penyebaran virus tersebut di tengah masyarakat. Menurutnya, risiko paparan bagi populasi umum di Indonesia saat ini secara keseluruhan masih berada pada level yang rendah.
Namun, Dicky menekankan bahwa kewaspadaan kolektif tetap harus ditingkatkan mengingat adanya sejumlah faktor pendukung penyebaran di lingkungan sekitar. Faktor tersebut meliputi ledakan populasi tikus, fenomena banjir musiman, hingga kondisi sanitasi di wilayah perkotaan yang belum merata kualitasnya.
Aktivitas yang padat di sektor pergudangan dan kawasan pelabuhan juga menjadi variabel yang perlu diperhatikan secara serius. Dicky menyebutkan terdapat kelompok profesi tertentu yang memiliki probabilitas lebih tinggi untuk terpapar virus ini dibandingkan masyarakat umum.
"Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus meliputi petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, serta petani," katanya.
Masyarakat yang menetap di kawasan rawan banjir juga masuk dalam kategori rentan. Demikian pula bagi individu yang sering beraktivitas di lingkungan tertutup, kotor, dan menjadi sarang tikus, karena risiko penularan utama berasal dari ekskresi hewan tersebut.
Tantangan Diagnosis dan Pencegahan
Salah satu kendala utama dalam menangani penyebaran hantavirus di Indonesia adalah potensi terjadinya kesalahan diagnosis atau underdiagnosed. Gejala awal yang muncul pada pasien sering kali tidak spesifik dan memiliki kemiripan dengan penyakit infeksi lain yang lebih umum ditemukan.
Manifestasi klinis hantavirus kerap menyerupai gejala leptospirosis, demam berdarah (dengue), hingga gejala pneumonia berat. Dicky Budiman mengimbau masyarakat agar tidak perlu panik secara berlebihan namun tetap bertindak rasional dalam menjaga kebersihan.
Upaya pencegahan yang paling efektif adalah dengan memutus rantai kontak dengan tikus di lingkungan rumah. Hal ini dapat dilakukan dengan menyimpan stok makanan di tempat yang tertutup rapat serta rutin membersihkan area-area yang berpotensi menjadi sarang hewan pengerat.
Dicky menyarankan penggunaan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan saat harus berinteraksi dengan area kotor atau gudang. Kontak langsung dengan kotoran tikus harus dihindari sepenuhnya demi meminimalkan risiko masuknya virus ke dalam tubuh manusia.
Pemeriksaan medis secara dini sangat disarankan apabila seseorang mulai merasakan gejala yang mencurigakan setelah beraktivitas di lingkungan dengan sanitasi buruk. Gejala tersebut meliputi demam tinggi, nyeri pada otot, hingga munculnya gangguan pernapasan atau sesak napas.