Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan temuan 23 kasus hantavirus jenis seoul virus yang terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Data yang dilansir dari Detik Health pada Kamis (7/5/2026) menunjukkan bahwa jenis virus ini berbeda dengan virus andes yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa seluruh kasus yang terkonfirmasi di tanah air merupakan jenis seoul virus. Penularan virus ini berkaitan erat dengan aktivitas yang melibatkan kontak langsung terhadap sumber infeksi, terutama tikus di lingkungan sekitar.
"Kontak dengan sumber infeksi, yang berkaitan dengan hobi olahraga atau wisata seperti mendaki gunung, berkemah, dan lain-lain," kata Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI.
Risiko penularan diketahui meningkat saat individu berada di area yang terkontaminasi oleh ekskresi hewan pengerat. Paparan dapat terjadi melalui kontak dengan urine, feses, air liur, maupun debu yang telah tercemar virus dari tikus liar di berbagai lokasi.
"Mereka yang bekerja sebagai petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja lab yang menangani reservoir," ujar Aji.
Aji memaparkan bahwa jalur masuk virus ke tubuh manusia sangat beragam, mulai dari luka gigitan hingga partikel udara. Hal ini menjadi peringatan bagi pekerja di sektor berisiko tinggi dan masyarakat yang gemar melakukan aktivitas luar ruang.
"Penularan bisa terjadi melalui gigitan, eksresi dan sekresi atau saliva, urine, feses, sampai aerosol penularan dari menghirup debu yang terkontaminasi," katanya.
Berdasarkan data kumulatif, mayoritas pasien yang terinfeksi dilaporkan telah pulih kembali. Namun, otoritas kesehatan mencatat adanya angka kematian yang dipicu oleh komplikasi penyakit penyerta pada beberapa pasien.
"23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal," ungkap Aji.
Tingkat fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) untuk jenis seoul virus ini mencapai angka 13 persen. Aji memberikan penjelasan tambahan mengenai faktor-faktor yang memperburuk kondisi kesehatan pasien hingga menyebabkan kematian.
"Tingkat kematian relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan," jelasnya.
Sepanjang tahun 2026, Kemenkes telah mendeteksi adanya tambahan lima kasus baru di Indonesia. Distribusi kasus tersebar di sembilan provinsi dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
| Provinsi | Jumlah Kasus |
|---|---|
| DKI Jakarta | 6 |
| DI Yogyakarta | 6 |
| Jawa Barat | 5 |
| Sumatera Barat | 1 |
| Banten | 1 |
| Jawa Timur | 1 |
| NTT | 1 |
| Kalimantan Barat | 1 |
| Sulawesi Utara | 1 |
Kemenkes juga memberikan penegasan terkait potensi penularan antarmanusia untuk kasus yang ada di Indonesia. Hingga saat ini, risiko penyebaran dari manusia ke manusia untuk jenis virus yang ditemukan di tanah air masih dinilai sangat rendah.
"Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan," tutur Aji.