Kemenkes RI Pastikan Hantavirus di Indonesia Berbeda dengan Tipe Kapal Pesiar

Kemenkes RI Pastikan Hantavirus di Indonesia Berbeda dengan Tipe Kapal Pesiar

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan respons tegas terkait polemik hantavirus yang ramai diperbincangkan di media sosial sebagai isu konspirasi melalui konferensi pers daring pada Senin (11/5/2026). Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh misinformasi mengenai kemunculan penyakit tersebut.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, menjelaskan bahwa jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan kasus yang terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detik Health, Indonesia menghadapi tipe Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS), sementara di kapal tersebut terkonfirmasi tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS).

"Dalam konteks ini, kami sampaikan bahwa jangan sampai berita-berita yang disampaikan itu bersifat hoax, misinformasi, dan disinformasi," kata Andi, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI.

Andi menekankan pentingnya akurasi informasi agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat. Ia juga membedakan karakteristik virus ini dengan pandemi yang pernah terjadi sebelumnya.

"Masyarakat tentunya harus tenang. Tidak termakan hoaks. Kemudian, hantavirus ini jangan disamakan dengan COVID-19, jadi mohon dukungannya juga untuk memberikan informasi yang sesuai, sehingga masyarakat itu tenang," katanya Andi, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI.

Fokus utama pencegahan menurut Andi terletak pada aspek sanitasi dan kebiasaan hidup individu. Ia mendorong penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah mitigasi utama.

"Apa yang terjadi dengan kasus di kapal pesiar MV Hondius tersebut, kita berharap itu tidak terjadi di Indonesia," tegas Andi, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI.

Perbedaan signifikan antara HPS dan HFRS terletak pada gejala dan tingkat fatalitasnya. Tipe HPS yang dipicu Andes virus memiliki masa inkubasi hingga 42 hari dengan tingkat kematian (CFR) mencapai 60 persen, yang ditandai dengan gejala sesak napas dan batuk.

Sebaliknya, tipe HFRS yang ada di Indonesia memiliki masa inkubasi lebih singkat yakni 1-2 minggu dengan CFR antara 5 hingga 15 persen. Gejala spesifik pada tipe ini meliputi sakit kepala serta kondisi tubuh yang menguning atau ikterik. Penyakit ini tercatat sudah lama ada di Indonesia sebelum kasus kapal pesiar mewah MV Hondius mencuat.

Artikel terkait

Rekomendasi