Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengonfirmasi bahwa seorang warga negara asing (WNA) yang tinggal di Jakarta Pusat dinyatakan negatif hantavirus setelah menjalani pemeriksaan spesimen pada 9 Mei 2026. Penelusuran ini dilakukan usai pria berusia 60 tahun tersebut teridentifikasi sebagai kontak erat klaster kapal pesiar MV Hondius.
Langkah evakuasi ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso diambil sebagai bentuk kewaspadaan meski yang bersangkutan tidak menunjukkan gejala. Dilansir dari Detik Health, pria tersebut sempat berada dalam satu hotel dan penerbangan yang sama dengan pasien meninggal dunia saat transit di St. Helena pada 24 April 2026.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, Andi Saguni, menjelaskan bahwa koordinasi lintas sektor dilakukan segera setelah menerima notifikasi dari otoritas kesehatan Inggris. Tim medis kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memitigasi risiko penyebaran virus di Indonesia.
"Respons kami sangat cepat. Begitu mendapatkan notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, keesokan harinya kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi lintas sektor," ujar Andi Saguni.
Andi memastikan bahwa WNA yang bekerja di perusahaan asing tersebut telah menjalankan prosedur isolasi secara mandiri sejak tiba di tanah air. Hal ini dilakukan untuk mencegah potensi penularan sebelum hasil laboratorium keluar secara resmi.
"Kontak erat yang dimaksud sudah memiliki pengalaman dan kewaspadan tinggi khususnya terkait Hantavirus, sehingga setelah tiba di indonesia, dan mendapatkan notfikasi dari Inggris, dia karantina mandiri di tempat tinggal dan bekerja WFH," jelas Andi.
Upaya deteksi dini dilakukan melalui pengambilan lima jenis spesimen yang diuji di laboratorium khusus. Andi menegaskan bahwa pasien bersikap kooperatif selama proses pemantauan berlangsung hingga evakuasi dilakukan oleh tim Kementerian Kesehatan.
"Hasil pemeriksaan PCR menyatakan yang bersangkutan negatif hantavirus. Lima spesimen yang kami ambil semuanya menunjukkan hasil negatif," tegas Andi.
Meskipun hasil tes menunjukkan negatif, pasien tetap berada dalam pengawasan medis di RSPI Sulianti Saroso. Lokasi ini dipilih guna memudahkan observasi mendalam selama masa inkubasi virus yang diketahui dapat berlangsung lebih dari dua pekan.
"Kontak erat ini tinggal sendiri, komunikasi dengan orang lain itu tidak ada, di samping pemahamannya sudah bagus," lanjutnya.
Andi menambahkan bahwa jenis hantavirus yang ditemukan pada klaster kapal pesiar mewah tersebut berbeda dengan varian virus yang pernah ditemukan secara lokal di Indonesia sebelumnya. Tim dokter akan mengevaluasi kondisi pasien setiap hari sebelum memberikan status bebas virus sepenuhnya.