Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan klarifikasi terkait keberadaan strain hantavirus lokal yang dikenal sebagai Serang Virus atau SERV. Meski virus ini telah diidentifikasi di wilayah Banten, otoritas kesehatan memastikan belum ada bukti penularan dari hewan ke manusia di tanah air.
Kepastian tersebut dilansir dari Detik Health di tengah meningkatnya kewaspadaan publik pasca laporan wabah hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius. Kemenkes menekankan bahwa jenis virus yang ada di Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan penyebab wabah di luar negeri tersebut.
Secara klasifikasi, hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Jenis yang umum ditemukan adalah Seoul Virus (SEOV), sedangkan wabah MV Hondius dipicu oleh Andes Virus (ANDV) tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Serang Virus atau SERV merupakan varian lokal yang pertama kali ditemukan pada tikus di Serang, Banten. Walaupun secara genetik memiliki kekerabatan erat dengan Seoul Virus, SERV memiliki perbedaan signifikan sehingga dikategorikan sebagai varian tersendiri.
Saat ini, terdapat sekitar 50 jenis virus dalam kelompok Orthohantavirus di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 24 jenis di antaranya diketahui berpotensi menginfeksi manusia, namun Serang Virus sejauh ini hanya terdeteksi pada hewan pengerat.
Pemerintah terus melakukan surveilans terhadap penyakit yang ditularkan melalui tikus untuk memitigasi risiko sejak dini. Temuan ini menegaskan tingginya keragaman hantavirus di wilayah Indonesia yang memerlukan pemantauan intensif oleh para peneliti.
Status Penularan dan Langkah Pengawasan
Pihak kementerian menegaskan bahwa hingga pertengahan Mei 2026, belum tercatat adanya kasus infeksi SERV pada warga Indonesia. Strain lokal ini ditegaskan masih terbatas pada populasi tikus dan tidak terjadi transmisi lintas spesies ke manusia.
"Untuk Serang itu belum ada, itu hanya menginfeksi tikus saja. Jadi tidak terjadi penularan dari tikus ke manusia di Indonesia," kata dr Andi Saguni, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dalam konferensi pers, Senin (11/5/2026).
Guna menjaga kewaspadaan, Kemenkes mengaktifkan pemantauan melalui 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging di 20 provinsi. Fokus surveilans ditujukan pada pasien yang menunjukkan gejala gangguan ginjal atau jaundice (menguning) yang mengarah pada tipe HFRS.
Langkah pengawasan ini mengedepankan pendekatan One Health yang melibatkan lintas sektoral. Koordinasi dilakukan bersama Kementerian Pertanian, BRIN, serta Kemenko PMK untuk memastikan potensi penularan dapat dideteksi secara cepat dan tepat.
Saran Pencegahan Bagi Masyarakat
Meskipun risiko penularan Serang Virus saat ini masih rendah, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap keberadaan tikus. Perbedaan genetik virus menjadi faktor penting, mengingat hanya Andes Virus yang diketahui dapat menular antarmanusia.
Masyarakat diminta untuk menghindari interaksi langsung dengan tikus maupun sisa kotorannya. Perlindungan diri sangat disarankan terutama bagi mereka yang beraktivitas di area dengan populasi hewan pengerat yang tinggi.
"Apabila kontak tidak dapat dihindari, dapat menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sepatu boot," ujar dr Andi.
Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi kunci utama pencegahan, termasuk rutin mencuci tangan dan menjaga kebersihan tempat penyimpanan hasil panen. Kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja harus dijaga agar tidak menjadi sarang tikus.
Dr Andi juga memberikan instruksi khusus mengenai penanganan bangkai tikus hasil pembasmian hama. Ia mengingatkan agar bangkai tidak dibuang sembarangan, melainkan wajib dikubur dan ditutup rapat guna mencegah pencemaran lingkungan sekitar.