Kemenkes RI Percepat Teknologi Robotika Medis Atasi Lonjakan Stroke

Kemenkes RI Percepat Teknologi Robotika Medis Atasi Lonjakan Stroke

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mempercepat penerapan teknologi robotika dalam pelayanan medis di Bali pada Kamis (4/6/2026) demi mengatasi lonjakan kasus penyakit stroke di Indonesia. Langkah strategis ini difokuskan untuk mengoptimalkan layanan rehabilitasi bagi pasien pasca-stroke yang menjalani pemulihan jangka panjang.

Dilansir dari Medcom, data tahun 2023 menunjukkan sekitar 3,9 juta penduduk Indonesia hidup dengan stroke dan penyakit ini memicu lebih dari 337 ribu kematian. Selain itu, Indonesia menyumbang sekitar 6,5 persen beban disabilitas akibat stroke di tingkat global.

Lonjakan kasus tersebut turut berdampak signifikan pada aspek finansial negara. Nilai klaim BPJS Kesehatan untuk pelayanan terkait stroke tercatat melonjak tajam dari Rp2,7 triliun menjadi Rp5,6 triliun hanya dalam kurun waktu satu tahun.

Dirjen SDM Kesehatan Kemenkes, dr. Yuli Farianti menjelaskan bahwa dampak stroke memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta kemandirian penyintas akibat gangguan fisik dan kognitif jangka panjang. Hal tersebut memicu peningkatan kebutuhan layanan rehabilitasi secara nasional.

“Robot tidak hadir untuk menggantikan tenaga kesehatan. Sebaliknya, teknologi ini dirancang untuk memperkuat kapasitas dan mendukung kinerja tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif, presisi, dan berkelanjutan kepada pasien,” ujar dr. Yuli Farianti, Dirjen SDM Kesehatan Kemenkes.

Pemerintah kini menempatkan sektor rehabilitasi sebagai bagian krusial dalam pelayanan kesehatan modern. Langkah ini diambil untuk mengembalikan fungsi tubuh dan kemandirian para pasien secara optimal.

“Rehabilitasi bukan lagi layanan pelengkap. Rehabilitasi telah menjadi bagian esensial dari pelayanan kesehatan modern karena berperan penting dalam membantu pasien mendapatkan kembali fungsi dan kemandiriannya,” kata dr. Yuli Farianti, Dirjen SDM Kesehatan Kemenkes.

Sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional, Kemenkes RI tengah aktif membangun ekosistem robotika kesehatan yang terintegrasi. Upaya ini ditempuh melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan mitra industri.

“Kami tengah membentuk Komite Nasional Robotika Kesehatan serta menyiapkan fondasi bagi pengembangan pusat pelatihan, pelayanan, dan inovasi robotika kesehatan. Pada saat yang sama, kami juga mempersiapkan kerangka regulasi yang mendukung inovasi masa depan, termasuk telesurgery berbasis robotik dan pengembangan teknologi kesehatan dalam negeri,” jelas dr. Yuli Farianti, Dirjen SDM Kesehatan Kemenkes.

Pengembangan teknologi ini ditargetkan untuk memperluas jangkauan layanan berkualitas, memperkokoh kapasitas medis nasional, serta memaksimalkan hasil pemulihan pasien. Dr. Yuli menggarisbawahi bahwa kemajuan neurorehabilitasi di Indonesia dan Asia Pasifik sangat bergantung pada sinergi antar-sektor.

“Masa depan neurorehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan kolaborasi. Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemitraan yang kuat, kita dapat membantu lebih banyak masyarakat Indonesia untuk memulihkan fungsi, memperoleh kembali kemandirian, dan membangun harapan baru,” tutur dr. Yuli Farianti, Dirjen SDM Kesehatan Kemenkes.

Kemenkes RI berharap setiap inovasi yang dikembangkan di bidang robotika kesehatan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Teknologi ini diharapkan mendukung proses pemulihan pasien agar dapat kembali menjalani kehidupan yang produktif.

“Mari kita pastikan bahwa setiap inovasi yang kita kembangkan memiliki satu tujuan utama, yaitu membantu pasien pulih lebih baik, hidup lebih baik, dan kembali menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna,” pungkas dr. Yuli Farianti, Dirjen SDM Kesehatan Kemenkes.

Artikel terkait

Rekomendasi