Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melakukan koordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna mengantisipasi penyebaran Hantavirus yang terdeteksi di sebuah kapal pesiar di Argentina pada Kamis (7/6/2026). Langkah ini diambil untuk memastikan prosedur deteksi dini di Indonesia telah siap.
Dilansir dari Nasional, pemerintah saat ini telah meminta pedoman resmi terkait penanganan dan pemantauan virus tersebut. Meski demikian, pihak kementerian mencatat bahwa sebaran virus tersebut hingga saat ini masih terbatas pada lingkup kapal pesiar tersebut dan belum meluas ke wilayah lain.
"Kami sudah koordinasi dengan WHO. Kami minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi yang hasil masukannya kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu, Jadi belum nyebar ke mana-mana," kata Budi, Menteri Kesehatan.
Budi menekankan pentingnya kewaspadaan karena karakteristik virus ini yang tergolong berbahaya bagi kesehatan manusia. Persiapan alat deteksi menjadi prioritas utama guna menghadapi potensi ancaman kesehatan masyarakat seperti pengalaman masa lalu.
"Ini kan virus yang lumayan berbahaya, yang kita lakukan kita mempersiapkan agar skriningnya kita punya apakah itu dalam bentuk rapid test kayak Covid-19 dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR," tutur Budi, Menteri Kesehatan.
Ketersediaan infrastruktur medis di dalam negeri dianggap cukup memadai untuk mendukung upaya pencegahan ini. Indonesia telah memiliki sebaran mesin PCR yang luas sehingga proses identifikasi dapat dilakukan secara masif dan cepat jika diperlukan.
"Jadi sekarang kita masih fokus ke surveillancenya, supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat," ujar Budi, Menteri Kesehatan.
Dari perspektif epidemiologi, Dicky Budiman dari Griffith University menjelaskan bahwa penyakit ini termasuk kategori zoonosis yang bersumber dari hewan ke manusia. Penularan utamanya dipicu oleh paparan kotoran atau air liur tikus liar yang telah terkontaminasi.
"Yang perlu dipahami, hantavirus umumnya bukan menyebar dari manusia ke manusia, melainkan dari lingkungan yang terkontaminasi," ujar Dicky, Epidemiolog dari Griffith University.
Walaupun tingkat transmisi antarmanusia dinilai tidak semudah virus pernapasan lainnya, dampak infeksi dapat berakibat fatal pada fungsi organ paru-paru. Gangguan pembuluh darah yang dipicu virus ini dapat menyebabkan akumulasi cairan yang menghambat sistem pernapasan penderita.