Kemenkes Pastikan WNA di Jakarta Negatif Hantavirus Klaster MV Hondius

Kemenkes Pastikan WNA di Jakarta Negatif Hantavirus Klaster MV Hondius

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi seorang warga negara asing (WNA) di Jakarta Pusat negatif hantavirus setelah sempat diidentifikasi sebagai kontak erat klaster kapal pesiar MV Hondius. Penelusuran ini dilakukan menyusul notifikasi darurat dari otoritas kesehatan Inggris yang diterima pada Kamis, 7 Mei 2026 malam.

Dilansir dari Detik Health, pria berusia 60 tahun tersebut dievakuasi ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso untuk menjalani pemeriksaan spesimen secara menyeluruh. Tindakan ini diambil karena subjek memiliki riwayat interaksi yang sangat dekat dengan pasien konfirmasi kedua yang telah meninggal dunia.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa laporan International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) Inggris menjadi dasar pelacakan. Kontak erat tersebut diketahui sempat berada di satu hotel dan satu penerbangan yang sama dengan pasien meninggal saat perjalanan dari St. Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan.

"Respons kami sangat cepat. Begitu mendapatkan notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, keesokan harinya kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi lintas sektor," ujar Andi Saguni, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes.

WNA yang bekerja pada sebuah perusahaan asing tersebut tiba di Indonesia sejak 30 April 2026. Meskipun telah melewati rute perjalanan panjang melalui Zimbabwe dan Qatar, hasil pengujian laboratorium menunjukkan kondisi yang stabil dan tidak terinfeksi virus tersebut.

"Hasil pemeriksaan PCR menyatakan yang bersangkutan negatif hantavirus. Lima spesimen yang kami ambil semuanya menunjukkan hasil negatif," tegas Andi Saguni, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes.

Saat ini, pria tersebut masih ditempatkan di RSPI Sulianti Saroso untuk menjalani karantina dan pemantauan medis secara intensif. Walaupun hasil PCR negatif dan tidak ditemukan gejala klinis, prosedur pencegahan tetap diberlakukan guna memastikan keamanan kesehatan publik di Jakarta.

Artikel terkait

Rekomendasi