Kenaikan suku bunga acuan membayangi industri farmasi nasional karena berpotensi mengerek biaya pendanaan bagi emiten yang memiliki tingkat leverage tinggi. Kondisi makroekonomi ini diproyeksikan bakal menuntut perusahaan sektor kesehatan untuk lebih selektif dalam mengeksekusi rencana ekspansi bisnis mereka.
Dampak pengetatan kebijakan moneter tersebut disampaikan oleh Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, pada Kamis (21/5/2026) seperti dilansir dari Investasi. Sektor ini menghadapi tekanan ganda berupa pembengkakan beban bunga operasional sekaligus potensi penurunan volume penjualan akibat pelemahan daya beli masyarakat di segmen consumer health.
"Kondisi ini dapat membuat emiten lebih selektif dalam belanja modal dan ekspansi bisnis ke depan," kata Azis, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Tantangan operasional industri ini kian diperberat oleh depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Mayoritas emiten farmasi domestik masih mengandalkan pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan active pharmaceutical ingredients (API) atau bahan baku aktif.
"Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, sehingga berpotensi menekan margin emiten farmasi," tambahnya.
Pertumbuhan pendapatan sektor ini diperkirakan bergerak lebih moderat, terutama pada lini produk non-JKN yang sensitif terhadap fluktuasi konsumsi rumah tangga. Meski demikian, permintaan obat-obatan esensial dan produk kesehatan dasar diprediksi tetap stabil karena sifat industri yang defensif.
"Kebutuhan terhadap produk kesehatan dasar cenderung tidak banyak terpengaruh siklus ekonomi," jelasnya.
Selain menekan margin korporasi, kebijakan moneter ketat ini turut membatasi ruang fiskal pemerintah dalam mengalokasikan anggaran kesehatan. Konsekuensinya, volume pengadaan obat untuk program pemerintah berpotensi menurun dan berdampak langsung pada kinerja emiten farmasi pelat merah.