Istilah burnout kini semakin sering terdengar di kalangan pekerja serta anak muda dengan aktivitas padat. Tekanan pekerjaan yang menumpuk serta tuntutan untuk selalu produktif memicu rasa lelah secara fisik dan mental.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari lembaga kesehatan dunia. Revisi ke-11 Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa burnout adalah sindrom yang dikonseptualisasikan sebagai akibat dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola.
Seperti dilansir dari Wolipop, WHO tidak menganggap burnout sebagai kondisi medis. Fenomena pekerjaan ini juga dapat dipicu oleh stres di bidang kehidupan lain, seperti mengasuh anak, merawat orang lain, atau hubungan asmara.
Menurut WHO, burnout biasanya ditandai dengan rasa lelah yang muncul terus-menerus, bahkan setelah beristirahat. Tubuh terasa kurang bertenaga untuk menjalani aktivitas sehari-hari, sementara pikiran juga terasa berat sejak bangun tidur.
Semangat seseorang yang mengalami burnout sering menurun drastis. Pekerjaan atau kegiatan yang sebelumnya terasa menyenangkan perlahan berubah menjadi beban yang memicu rasa malas dan penundaan tugas.
Kemampuan berpikir dan berkonsentrasi ikut terganggu akibat sindrom ini. Seseorang menjadi lebih mudah lupa, sulit mengambil keputusan, serta kerap kehilangan fokus saat bekerja atau belajar.
Tekanan mental yang menumpuk membuat emosi menjadi tidak stabil. Seseorang cenderung lebih mudah marah, tersinggung, atau merasa frustrasi terhadap situasi sederhana yang biasanya bisa dihadapi dengan santai.
Perubahan pola tidur menjadi gejala lain yang sering muncul, baik berupa sulit tidur maupun tidur berlebihan. Pikiran yang terlalu penuh membuat tubuh tidak mampu beristirahat secara maksimal.
Kondisi ini juga memicu rasa cemas berlebihan dan overthinking terhadap pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Muncul ketakutan akan kegagalan yang membuat seseorang semakin sulit untuk rileks.
Energi yang terkuras habis membuat produktivitas menurun drastis. Pekerjaan yang biasanya bisa diselesaikan dengan cepat kini terasa jauh lebih berat dan memakan waktu lama.
Burnout ikut berdampak pada kondisi fisik tanpa penyebab medis tertentu. Beberapa orang kerap mengalami sakit kepala, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga jantung berdebar akibat stres berkepanjangan.
Pada tahap tertentu, muncul perasaan hampa dan kehilangan tujuan hidup. Aktivitas sehari-hari terasa monoton, membosankan, sehingga seseorang kehilangan arah serta sulit menemukan kebahagiaan.
Langkah Mengatasi Burnout
Seperti dilansir dari Psichology Today, siapapun yang kehabisan energi di tempat kerja, di sekolah, atau di rumah, dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak buruk kelelahan.
Seseorang perlu mengevaluasi kembali pendekatan mereka terhadap kehidupan sehari-hari jika kondisi ini mulai melanda. Memiliki tujuan hidup dan memberikan dampak positif pada orang lain efektif dalam membatasi kelelahan.
Rasa kebermaknaan yang hadir dari sumber mana pun dinilai mampu mengimbangi aspek negatif dari pekerjaan sehari-hari seseorang.