Mayoritas pemimpin perusahaan global mulai memanfaatkan alat kecerdasan buatan (AI) untuk memacu produktivitas, namun sangat sedikit yang mengintegrasikannya ke dalam strategi pertumbuhan jangka panjang. Fenomena ini terungkap dalam laporan terbaru EY-Parthenon yang dirilis pada Senin (11/5/2026).
Survei terhadap 271 eksekutif senior, dilansir dari Lestari, menunjukkan bahwa 63 persen responden mengakui AI sangat membantu dalam meningkatkan efisiensi operasional. Sebaliknya, pemanfaatan AI untuk memenangkan persaingan pasar hanya mencapai 14 persen, diikuti penggunaan untuk menarik pelanggan baru sebesar 8 persen.
Data tersebut menunjukkan kesenjangan besar antara penggunaan AI sebagai alat penghemat biaya dan mesin pertumbuhan pendapatan. Padahal, 80 persen pemimpin perusahaan merasa tantangan mengembangkan bisnis saat ini jauh lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya akibat tekanan geopolitik dan inovasi teknologi.
Pihak EY-Parthenon mencatat bahwa dinamika berita global harian sangat memengaruhi pergeseran strategi perusahaan. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa 73 persen peserta terdampak ketidakstabilan ekonomi dan politik dunia, sementara 58 persen lainnya terpengaruh oleh inovasi teknologi yang cepat.
"Hasil survei ini mencerminkan apa yang ada di berita setiap hari," tulis EY-P.
Laporan tersebut menekankan bahwa ketidakpastian global telah mempersingkat siklus perencanaan strategis perusahaan. Kondisi sulit ini menuntut para pelaku usaha untuk menemukan pemicu baru guna mempercepat ekspansi meski dalam situasi yang menantang.
"Masa-masa di mana kita bisa membuat rencana pertumbuhan untuk tiga tahun mungkin sudah berakhir, dan perusahaan-perusahaan kini mencari pemicu untuk mempercepat ekspansi meskipun kondisinya sulit," tulis laporan tersebut.
Meskipun optimisme terhadap potensi AI cukup tinggi, tercatat ada hambatan kepercayaan yang signifikan dalam proses pengambilan keputusan kritis. Hanya 34 persen pemimpin yang benar-benar percaya pada AI untuk menentukan arah pertumbuhan besar perusahaan, meskipun 78 persen berharap teknologi ini bisa mempercepat ekspansi.
Mitch Berlin, pimpinan dari EY-P, memberikan pandangan mengenai kriteria perusahaan yang akan mendominasi pasar di masa depan melalui adopsi teknologi yang lebih agresif. Ia menyoroti pentingnya inovasi produk yang dipersonalisasi serta kecepatan peluncuran layanan baru.
Menurut Mitch Berlin, pimpinan dari EY-P, perusahaan yang akan menjadi "pemenang" adalah mereka yang lebih dulu tahu cara menggunakan AI untuk memajukan bisnis.
EY-Parthenon menyarankan perusahaan untuk mulai memanfaatkan AI neuro-symbolic (NSAI). Teknologi ini dianggap mampu memberikan keputusan yang lebih konsisten dan transparan karena menggabungkan pembelajaran data dengan lapisan aturan yang jelas.