Memantau tekanan darah secara mandiri di rumah sangat penting untuk mendeteksi risiko hipertensi sejak dini. Namun, hasil pemeriksaan bisa menjadi tidak akurat jika proses pengukurannya dilakukan dengan cara yang keliru, seperti dilansir dari Medcom.
Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, menjelaskan beberapa teknik khusus, aturan waktu, serta batasan angka normal yang harus dipahami saat memeriksa tekanan darah di rumah.
“Kalau caranya salah, (pengukurannya) jadi gak tepat,” ujar dr. Eka dalam acara peluncuran Omron Tensimeter Seri EZ dan IQ, Rabu, 20 Mei 2026.
Kesalahan posisi atau aktivitas tertentu saat melakukan tensi dapat memicu kenaikan angka tekanan darah secara semu. Oleh karena itu, terdapat beberapa panduan yang perlu diperhatikan agar hasilnya mencerminkan kondisi tubuh yang sebenarnya.
Saat mengukur tekanan darah, posisi tubuh harus berada dalam keadaan tegak dan bersandar pada kursi. Jika punggung tidak bersandar, angka tekanan darah pada alat tensimeter berisiko melonjak naik sekitar 10 hingga 15 mmHg.
Posisi kaki juga memengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan. Kedua telapak kaki wajib menapak rata di lantai karena menyilangkan kaki saat pengukuran dapat menaikkan angka tensi hingga 10 mmHg.
Selain posisi tubuh, kondisi yang tenang sangat dibutuhkan selama alat tensimeter bekerja. Berbicara atau mengobrol saat pemeriksaan berlangsung bisa membuat tekanan darah meningkat hingga 20 mmHg.
Aktivitas sebelum pengukuran juga harus diperhatikan melalui aturan 3 sebelum. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan sebelum makan, sebelum meminum obat, dan sebelum melakukan aktivitas berat.
Waktu yang paling ideal untuk melakukan tensi adalah satu jam setelah mandi. Pada waktu tersebut, kondisi tubuh biasanya sudah berada dalam keadaan benar-benar rileks dan tenang.
Penggunaan ukuran manset atau sabuk kain pembungkus lengan juga harus disesuaikan dengan ukuran tubuh pengguna, terutama jika alat tensimeter digunakan bersama oleh anggota keluarga yang bertubuh gemuk.
“Manset berpengaruh. Kalau mansetnya kekecilan atau kebesaran, berpengaruh ke hasil akhirnya,” tegas dr. Eka.
Frekuensi dan Batasan Angka Hipertensi
Bagi individu yang baru memulai pemeriksaan mandiri, pengukuran disarankan dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu sesi. Dua hasil pengukuran terakhir kemudian diambil untuk dihitung rata-ratanya.
"Kadang-kadang pengukuran yang pertama itu adalah masa adaptasi tubuh, sehingga hasilnya cenderung lebih tinggi," jelas dr. Eka.
Pemeriksaan mandiri ini cukup dilakukan pada dua waktu krusial, yaitu pagi hari dan malam hari. Tekanan darah pada malam hari umumnya akan terdeteksi sedikit lebih rendah dibandingkan saat pagi hari.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak terlalu stres atau cemas melihat fluktuasi angka pada tensimeter setiap saat. Rasa cemas yang berlebihan justru dapat memicu kenaikan tekanan darah.
Indikator angka normal untuk pemeriksaan di rumah juga memiliki perbedaan dengan standar di rumah sakit atau klinik. Jika di klinik batasannya adalah 140/90 mmHg, maka batasan tekanan darah tinggi di rumah adalah 135/85 mmHg.
Jika angka tensi mandiri secara konsisten berada di atas batasan tersebut, masyarakat disarankan untuk segera melakukan konsultasi dengan tenaga medis.