Prospek kinerja PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) diproyeksi masih menjanjikan sepanjang 2026. Kepastian pasokan bahan bakar minyak (BBM), pertumbuhan kawasan industri Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), serta meningkatnya pendapatan utilitas menjadi penopang utama pertumbuhan perseroan tahun ini, seperti dikutip dari Investasi.
Dari sisi operasional, AKRA telah mengamankan pasokan BBM hingga pertengahan Juni 2026. Saat ini perusahaan tengah mengupayakan perpanjangan kontrak hingga akhir Juli 2026.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai kondisi tersebut memberikan visibilitas yang baik terhadap kinerja operasional AKRA dalam jangka pendek.
"Kami menilai prospek AKRA pada 2026 masih positif. Kepastian pasokan BBM dan kontrak yang telah diamankan hingga Juni 2026 memberikan visibilitas yang baik terhadap volume distribusi pada kuartal II-2026," ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (4/6/2026).
Selain bisnis distribusi energi yang tetap solid, pertumbuhan kawasan industri JIIPE juga akan menjadi motor pertumbuhan kinerja AKRA tahun ini. Peningkatan penjualan lahan industri serta bertambahnya pendapatan utilitas diperkirakan mampu menopang pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan hingga akhir tahun.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Bob Setiadi, mencermati bahwa dalam mendukung ekspansi bisnis ritel, AKRA telah memperoleh tambahan kuota impor BBM lebih dari 10% dibanding tahun lalu. Kuota tersebut akan digunakan untuk mendukung pembukaan 15 hingga 20 SPBU baru sepanjang tahun ini.
Menurut Bob, kondisi harga minyak yang tinggi justru menciptakan peluang bagi AKRA. Pemasok cenderung memprioritaskan pelanggan yang memiliki modal kerja kuat dan hubungan bisnis jangka panjang.
AKRA juga mencatat peningkatan volume penjualan BBM baik dari segmen B2B maupun B2C pada kuartal pertama tahun ini.
"Sementara pada bisnis bahan kimia dasar, profitabilitas meningkat seiring kenaikan harga naphtha, caustic soda, sulfuric acid, dan metanol. Segmen ini relatif terlindungi karena AKRA memperoleh margin distribusi dalam persentase yang tetap," terang Bob dalam riset 24 April 2026.
Melihat kinerja keuangan, AKRA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 12,94 triliun pada kuartal I-2026. Nilai ini tumbuh 26,12% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 10,26 triliun.
Laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk AKRA juga tumbuh 16,15% yoy. Angka tersebut naik dari Rp 565,21 miIiar pada kuartal I-2025 menjadi Rp 656,49 miliar pada kuartal I-2026.
Bob menyebut hasil kinerja AKRA pada kuartal I-2026 masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi ini membuka peluang pertumbuhan yang lebih baik hingga akhir tahun.
Pertumbuhan laba secara tahunan akan ditopang oleh peningkatan margin dan volume pada segmen Trading & Distribution (T&D), penjualan lahan JIIPE yang lebih tinggi, serta tingkat pajak yang lebih rendah.
Analis Maybank Sekuritas Hasan Barakwan dalam riset 27 April 2026 memaparkan bahwa momentum pertumbuhan JIIPE dinilai tetap kuat. Target penjualan lahan dipatok sebesar 90-100 hektare pada 2026.
Target tersebut didukung oleh pipeline lahan seluas 700 hektare-800 hektare yang menyasar investor dari sektor kendaraan listrik (EV), logam, dan industri berat.
Di sisi lain, bisnis utilitas menawarkan potensi pertumbuhan yang signifikan. Smelter Freeport ditargetkan mencapai tingkat utilisasi 80% pada akhir 2026, sementara Xinyi Solar dijadwalkan mulai memproduksi kaca panel surya (PV glass) sebanyak 1.000 ton per hari pada kuartal II-2026.
Hasan menargetkan AKRA bisa membukukan pendapatan sebesar Rp 32,39 triliun pada tahun 2026. Angka ini turun sekitar 29,6% yoy dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai Rp 46,02 triliun.
Meski demikian, profitabilitas perseroan diperkirakan tetap membaik. Laba bersih inti (core net profit) AKRA pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp 2,61 triliun, meningkat 5,5% yoy dibandingkan laba bersih tahun 2025 sebesar Rp 2,47 triliun.
Hasan memberikan rekomendasi buy untuk saham AKRA dengan target harga Rp 1.850 per saham. Sukarno juga memberikan rekomendasi untuk buy saham AKRA dengan target harga Rp 1.690 per saham, sedangkan Bob memberikan rekomendasi add AKRA dengan target harga Rp 1.590 per saham.