Kinerja keuangan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) pada kuartal II-2026 diproyeksikan bakal meneruskan tren pemulihan yang positif. Pertumbuhan ini disokong oleh lini bisnis kawasan industri, perhotelan, serta sektor konstruksi.
Emiten yang bergerak di bidang properti dan kawasan industri ini berhasil mengantongi pendapatan usaha sebesar Rp 1,44 triliun pada kuartal I-2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 35% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang tercatat senilai Rp 1,07 triliun, seperti dikutip dari Investasi.
Sektor jasa konstruksi menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perseroan dengan sumbangan mencapai Rp 788,64 miliar. Sementara itu, segmen tanah kawasan industri memberikan kontribusi sebesar Rp 406,01 miliar.
Sektor perhotelan turut menyumbang pendapatan sebesar Rp 162,43 miliar bagi perseroan. Adapun segmen jasa pemeliharaan dan utilitas mencatatkan angka Rp 84,22 miliar, serta segmen sewa berkontribusi sebesar Rp 4,67 miliar.
Peningkatan pendapatan ini berjalan beriringan dengan perbaikan performa pada lini bottom line perseroan. SSIA berhasil mengamankan laba bersih senilai Rp 89,01 miliar pada kuartal I-2026, berbalik dari kondisi kuartal I-2025 yang mengalami rugi bersih Rp 21,70 miliar.
Pertumbuhan yang signifikan ini dipicu oleh realisasi pendapatan usaha perseroan yang melesat sekitar 35% menjadi Rp 1,44 triliun.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memberikan proyeksi bahwa penopang utama bagi kinerja perseroan pada kuartal II masih akan bertumpu pada lini properti dan kawasan industri.
"SSIA sudah memiliki Subang Smartpolitan serta kepemilikan lahan-lahan di Karawang," ujar Nafan kepada Kontan pada Rabu (20/5/2026).
Sektor perhotelan dinilai memiliki potensi besar untuk mendongkrak performa perusahaan. Hal ini didorong oleh momentum libur panjang serta hari raya yang diperkirakan mampu menaikkan tingkat keterisian kamar hotel.
Pada lini bisnis konstruksi, kontribusi positif masih terus mengalir melalui anak usaha perseroan, yaitu PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Perusahaan ini tengah aktif menyelesaikan sejumlah proyek infrastruktur strategis, termasuk pengerjaan jalan tol.
Meskipun memiliki prospek cerah, Nafan mengingatkan bahwa SSIA tetap dihadapkan pada beberapa tantangan operasional selama kuartal II-2026. Salah satu hambatan utama datang dari karakteristik siklus penjualan di kawasan industri yang cenderung memakan waktu lama.
"Penjualan lahan industri dalam skala besar umumnya membutuhkan proses negosiasi yang cukup lama sehingga realisasi marketing sales tidak selalu dapat terjadi secara cepat," kata Nafan.
Faktor eksternal seperti fluktuasi nilai tukar rupiah juga perlu diwaspadai karena berpotensi memicu kenaikan biaya logistik serta harga material konstruksi impor. Di sisi lain, kondisi suku bunga yang masih berada di level tinggi berisiko memperberat beban bunga perusahaan dan memicu sikap kehati-hatian dari para investor.
Dampak Ekosistem Kendaraan Listrik dan Infrastruktur Patimban
Di tengah situasi menantang tersebut, perkembangan ekosistem kendaraan listrik muncul sebagai stimulus krusial bagi bisnis SSIA. Masuknya investasi dari BYD di Subang Smartpolitan dinilai memperkuat posisi tawar dan daya tarik kawasan industri tersebut.
Kondisi ini turut mengerek harga lahan di Subang Smartpolitan, yang pada gilirannya meningkatkan pricing power bagi emiten. Dorongan positif lainnya bersumber dari pengerjaan infrastruktur konektivitas, seperti akses jalan tol langsung menuju Pelabuhan Patimban.
Terkait volume inquiries lahan di Subang Smartpolitan yang sudah menyentuh 263 hektare, Nafan memandang hal itu sebagai fenomena yang wajar walaupun realisasi penjualan pemasaran belum sepenuhnya rampung.
Para pelaku investor dinilai cenderung bersikap kontekstual dengan menunggu kesiapan infrastruktur krusial, seperti akses pelabuhan dan jalan tol, sebelum meresmikan transaksi pembelian lahan dalam volume besar.
Ketersediaan jaringan rantai pasok industri di sekitar kawasan juga memegang peranan sangat vital dalam mempercepat realisasi investasi dari para calon penyewa lahan.
"Keberadaan ekosistem industri pendukung akan sangat menentukan operasional pabrik dan mempercepat keputusan investasi tenant," katanya.
Dari faktor pasar modal, tantangan pergerakan saham masih dipengaruhi oleh fenomena capital outflow di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Prospek minat investasi di sektor ini juga dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meskipun potensi pertumbuhan jangka panjang perusahaan dinilai tetap prospektif, Nafan memberikan panduan investasi berupa wait and see untuk pergerakan saham SSIA saat ini.