Prospek kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR) diperkirakan masih menghadapi tekanan sepanjang 2026. Langkah ini terjadi setelah manajemen memutuskan untuk merevisi turun sejumlah target operasional serta memangkas belanja modal (capital expenditure/capex).
Dikutip dari Investasi, manajemen UNTR menurunkan panduan operasional di hampir seluruh segmen usaha dalam paparan kinerja kuartal I-2026. Penjualan batubara dari Tuah Turangga Agung (TTA) menjadi salah satu yang paling terdampak.
Target penjualan komoditas tersebut kini hanya sebesar 7,5 juta ton. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 35% dibandingkan target sebelumnya yang dipicu oleh rendahnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Perseroan juga memotong alokasi belanja modal sebesar 27% menjadi US$ 650 juta dari target awal yang mencapai US$ 880 juta. Penyesuaian tersebut utamanya berasal dari pemangkasan capex PT Pamapersada Nusantara (Pama) hingga mencapai 50%.
Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai langkah revisi target operasional dan capex tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap kinerja keuangan perseroan sepanjang tahun ini.
Sebagai informasi, UNTR membukukan laba bersih, tidak termasuk non-recurring charges, sebesar Rp 1,8 triliun pada kuartal I-2026. Angka tersebut turun 44% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pendapatan bersih perseroan tercatat sebesar Rp 28,6 triliun. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 17% jika dibandingkan dengan capaian Rp 34,3 triliun pada kuartal I-2025.
"Kami memproyeksikan pendapatan UNTR pada tahun ini akan mengalami penurunan sekitar 15% hingga 20% secara tahunan," ujar Adrian.
Menurut Adrian, penurunan pendapatan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, termasuk penghentian sementara operasional tambang emas Martabe. Faktor lain yakni revisi turun target overburden removal serta perlambatan penjualan alat berat akibat ketidakpastian dalam proses persetujuan RKAB.
Meski demikian, sejumlah katalis positif masih berpotensi menopang kinerja UNTR pada semester II-2026. Salah satunya adalah peluang pelonggaran persetujuan RKAB oleh pemerintah yang dapat mendorong peningkatan aktivitas pertambangan.
Harga emas global yang masih bertahan di level tinggi juga menjadi sentimen positif bagi perseroan. UNTR memiliki eksposur terhadap bisnis pertambangan emas yang berpotensi memperoleh manfaat dari tren kenaikan harga komoditas tersebut.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap profitabilitas segmen emas. Pasalnya, pendapatan penjualan emas menggunakan denominasi dolar AS, sehingga pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan margin keuntungan.
Dari sisi valuasi, Adrian menilai saham UNTR masih menarik untuk dicermati investor. Menurutnya, saham emiten alat berat dan pertambangan tersebut saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata Price to Book Value (PBV) dalam lima tahun terakhir.
"Secara teknikal, pergerakan saham UNTR memiliki target penguatan jangka pendek di level Rp 25.000. Indikator RSI menunjukkan bahwa saham saat ini telah berada di area oversold," kata Adrian.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi. Ia menilai valuasi saham UNTR saat ini sudah cukup menarik dengan price earning ratio (PER) sekitar 8 kali dan dividend yield yang relatif tinggi.
Dengan mempertimbangkan valuasi yang masih murah serta potensi pemulihan kinerja pada paruh kedua tahun ini, Wafi merekomendasikan buy untuk saham UNTR dengan target harga sebesar Rp 28.000 per saham.