Kisah Arif Hermawan Sukses Bangun Kebun Hidroponik Selada di Lumajang dari Kegagalan

Kisah Arif Hermawan Sukses Bangun Kebun Hidroponik Selada di Lumajang dari Kegagalan

Seorang pemuda asal Lumajang sukses mengembangkan usaha budidaya selada hidroponik setelah belajar secara otodidak dari rentetan kegagalan teknis. Usaha yang dirintis dari loteng rumah tersebut kini memiliki ribuan lubang tanam dan berkontribusi langsung pada ketahanan pangan daerah.

Seperti dikutip dari Suara, hasil panen dari perkebunan modern ini sekarang digunakan untuk menyokong Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lumajang. Pasokan sayuran segar tersebut disalurkan melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Perjalanan Arif Hermawan bermula di loteng rumahnya yang berukuran 40 meter persegi di Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang. Di lokasi yang panas di bawah atap seng tersebut, ia berulang kali menghadapi kegagalan saat pertama kali menanam selada.

Instalasi awal yang memanfaatkan 70 botol plastik bekas lebih sering membuat tanaman mati, akar membusuk, dan daun menguning. Namun, pemuda berusia 28 tahun ini memilih menjadikan kegagalan tersebut sebagai media pembelajaran.

Kini, setelah tujuh tahun berlalu, kebun hidroponik milik Arif telah berkembang pesat dengan memiliki 4.200 lubang tanam aktif. Setiap siklus 40 hari, kebun ini mampu memproduksi lebih dari tujuh kuintal selada segar untuk memenuhi kebutuhan pasar dan program gizi pemerintah.

Arif sendiri bukan merupakan lulusan dari bidang pertanian, melainkan seorang sarjana ekonomi syariah. Sebelum terjun ke dunia pertanian modern, ia sempat melakoni pekerjaan sebagai sales marketing dan hanya mempelajari hidroponik lewat video internet.

Masalah teknis seperti aliran air yang terganggu dan ketidakseimbangan nutrisi sempat menjadi kendala harian. Bersama istrinya, ia telaten mencatat setiap kegagalan, memperbaiki instalasi, serta mendalami kebutuhan nutrisi tanaman hingga berhasil.

"Yang paling sulit sebenarnya bukan modal, tetapi memahami sistemnya," kata Arif.

Hasil panen yang awalnya dibagikan kepada tetangga sekitar ternyata mendapat respons positif dan memicu permintaan pasar. Arif kemudian mengambil keputusan besar untuk keluar dari pekerjaannya dan fokus mengelola pertanian hidroponik secara penuh.

Pengembangan Kapasitas dan Dampak Sosial

Untuk memperluas skala bisnis, Arif mengambil pinjaman modal perbankan sebesar Rp65 juta demi memindahkan instalasi ke lahan seluas 220 meter persegi. Langkah berisiko ini membuahkan hasil dengan omzet mencapai sekitar Rp21 juta per siklus panen dan laba bersih sekitar Rp15 juta.

Melihat minimnya minat generasi muda pada sektor pertanian, Arif mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S). Wadah ini digunakan untuk mengedukasi masyarakat mengenai potensi besar dari pemanfaatan teknologi pertanian modern.

"Pertanian sekarang sudah berbeda. Ada hidroponik, pemasaran digital, penjualan online, dan berbagai teknologi yang membuat usaha tani lebih menjanjikan," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Lumajang memberikan apresiasi terhadap langkah Arif yang dinilai sejalan dengan upaya penguatan ketahanan pangan daerah. Saat ini pemerintah setempat juga menggalakkan Program Pekarangan Sehat (PESAT) untuk mendorong kemandirian pangan keluarga.

Menurut Bupati Lumajang, Indah Amperawati, ketahanan pangan keluarga menjadi fondasi penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi maupun pangan di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi