Kisah Eka Budi Utami Sukses Bawa Mukena Naeka Tembus Pasar Global

Kisah Eka Budi Utami Sukses Bawa Mukena Naeka Tembus Pasar Global

Prinsip mengutamakan ibadah dalam berbisnis mengantarkan Eka Budi Utami (39) meraih kesuksesan lewat brand modest fashion muslim bernama Naeka. Usaha yang dirintis dari bawah ini perlahan terus berkembang hingga mampu menjangkau pasar internasional.

Perkembangan pesat bisnis ini tidak lepas dari pendampingan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Rumah BUMN BRI Jakarta. Dilansir dari Detik Finance, Eka secara konsisten mengikuti berbagai program pelatihan serta fasilitas pameran untuk memperluas jangkauan pasarnya.

Perjalanan Naeka dimulai saat pandemi COVID-19 melanda, tepatnya setelah Eka memutuskan berhenti bekerja pascamelahirkan. Awalnya, ia sempat mendirikan usaha pakaian bayi dan anak, namun bisnis tersebut mengalami kemandekan.

Padahal, modal yang dikeluarkan terbilang besar untuk mengurus legalitas usaha. Sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) hingga Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk merek dagangnya sudah diselesaikan.

"Karena waktu itu aku mikir, aku abis lahiran, terus kayak butuh baju bayi buat kulit sensitif gitu. Tapi ternyata, aku kayak nggak berjodoh, kok nggak cocok nih, nggak jalan-jalan gitu," katanya kepada detikcom.

Adik ipar sekaligus rekan bisnisnya, Rina, kemudian memberikan motivasi agar semangat usaha mereka tidak padam. Keduanya lalu sepakat untuk beralih menjual produk jilbab secara daring.

Nama Naeka dipilih yang merupakan perpaduan dari nama Rina dan Eka. Melalui sistem maklon jilbab, produk pertama mereka yang dirilis di tengah pandemi langsung mendapat respons positif dan habis terjual.

Momentum pertumbuhan bisnis terjadi pada Ramadan 2020 saat Naeka meluncurkan produk mukena bermotif. Pemilik toko kain tempatnya membeli bahan menyarankan agar Eka fokus mencari keunikan atau identitas produk.

"Dia billing, 'kamu cari DNA-nya dulu nih. Karena yang jualan kayak produk kamu tuh banyak. Nanti kalau udah DNA-nya dapet, kamu harus fokus di situ'," kenang Eka menirukan ucapan sang pemilik toko.

Naeka akhirnya memilih fokus pada material katun silk. Meski dipasarkan sepenuhnya secara daring tanpa toko fisik maupun promosi besar, mukena tersebut langsung laris manis pada momentum Lebaran pertama pandemi.

Bermodal awal Rp 2 juta, Eka berhasil mengumpulkan pesanan hingga meraup omzet sebesar Rp45 juta pada April 2020. Pencapaian ini sempat membuatnya terkejut sekaligus bersyukur.

"Dan Naeka, siapa sih yang kenal? Itu cuma perkara aku punya satu admin pada saat itu. Jadi cuma upload ke (lalu dapat) Rp45 juta. Aku kayak, 'eh uang dari mana nih?," ujarnya heran sekaligus bersyukur melihat antusiasme pembeli.Identitas Naeka kini semakin kuat pada lini mukena motif cetak berbahan silk dengan ciri khas corak bunga berwarna pastel. Produk premium ini dipasarkan dengan rentang harga Rp 255 ribu hingga Rp 685 ribu.

Demi menjaga kualitas, Eka mendirikan konveksi sendiri bernama Taka Konveksi pada 2021 dengan melibatkan tenaga kerja dari Garut, Cilacap, dan Jawa Tengah. Langkah ini diambil untuk mempermudah kontrol operasional dari hulu ke hilir.

Saat ini, Naeka sedang mengurus berbagai sertifikasi tambahan seperti TKDN dan izin industri. Legalitas ini disiapkan untuk membidik pasar retail modern hingga proyek pengadaan pemerintah.

Akselerasi Bisnis Bersama Rumah BUMN BRI

Langkah ekspansi Naeka semakin terarah setelah bergabung dengan program pemberdayaan Rumah BUMN BRI pada awal 2022. Eka mendaftarkan usahanya setelah melihat informasi di media sosial Instagram BRI.

Setelah lolos proses kurasi, Naeka berhak mengikuti rangkaian pelatihan intensif harian. Sistem kelas yang beragam membuat Eka bisa mendelegasikan timnya sesuai dengan topik yang dibahas.

"Misalkan hari ini bahas keuangan, yang datang tim finance aku, kayak bikin neraca tuh gimana. Jadi kita bagi-bagi nih, misalnya hari ini ngomongin tentang branding, aku yang berangkat," ujarnya.

Kesiapan produk dan struktur tim yang matang membuat Naeka lebih siap berkembang dibanding peserta lain. Sejak awal masuk ekosistem, Naeka sudah menggunakan kemasan boks yang premium.

Setelah mengikuti pelatihan di Rumah BUMN BRI Jakarta Barat, Naeka langsung dilibatkan dalam pameran di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Fasilitas ini berdampak langsung pada peningkatan penjualan dan popularitas merek.

"Tentu kalau misalkan ada bazar-bazar yang mengenalkan market baru, itu bikin influence ke pendapatan kita, ke revenue. Jadi bantu secara nggak langsung," tuturnya.

Melalui pameran tersebut, Eka dapat berinteraksi langsung dan memahami karakteristik target pasarnya secara spesifik. Saat pameran di bandara pada 2023, produknya bahkan mulai dibeli oleh konsumen luar negeri.

"Kenapa? Karena kita ketemu kayak market baru. (Pameran) di mal sama kementerian itu beda banget. Beda banget. Jadi, kalau diajak pameran gitu, aku pasti akan datang. Karena aku pengen ketemu customer langsung," jelasnya.

Ekspansi ke Afrika hingga Kanada

Jaringan global Naeka semakin terbuka lebar setelah mengikuti program business matching yang mempertemukan UMKM dengan pembeli internasional dari BRI. Desain mukena Naeka berhasil memikat pembeli dari Senegal.

"Jadi perwakilan kedutaan, buyer, brand owner, dan satu translator duduk bersama. Kebetulan latar belakang pendidikan S1 saya adalah Sastra Prancis, jadi saat buyer tertarik, obrolan kami langsung menyambung," ungkap Eka.

Pembeli tersebut adalah Madam Duma, seorang selebgram berpengaruh di Senegal. Untuk pasar Afrika yang cenderung panas, Naeka melakukan penyesuaian material kain dari silk menjadi katun rayon sesuai permintaan pasar lokal.

"Di sana kan udaranya sangat panas. Kalau kami berikan bahan silk seperti di Indonesia, kainnya akan terasa sangat lengket di kulit. Mereka billing suka dengan desain kami, tapi meminta materialnya diganti menggunakan katun rayon. Akhirnya kami membuat produk custom khusus untuk pasar Afrika," jelasnya.

Pesanan juga datang dari konsumen muslim di Kanada melalui komunikasi via Instagram. Konsumen tersebut membeli lima set mukena seharga Rp 2,5 juta dengan ongkos kirim mencapai Rp 2 juta.

"Dia DM, beli lima pcs, totalnya sekitar Rp 2,5 juta. Tapi fun fact-nya, ongkos kirim ke Kanada itu mencapai Rp 2 juta sendiri, hampir sama mahal dengan harga produknya. Meskipun begitu, dia tetap memutuskan untuk membeli," kenang Eka.

Selain itu, Naeka rutin melayani pengiriman ke Singapura dalam jumlah besar sekitar 15 hingga 20 unit per pesanan. Pasar Malaysia juga mulai melirik produk ini setelah proses syuting konten di sebuah masjid di Penang menarik perhatian warga lokal.

"Singapura tuh ada satu orang, aku nggak ngerti. Tapi kayaknya dia jual lagi. Karena dia kalau beli, nggak mungkin dikit. Kayak 15 pcs sampai 20 pcs," ungkapnya.

Memaksimalkan Momentum Musim Haji dan Program Sosial

Pada musim haji, Naeka kebanjiran pesanan dari berbagai agen travel haji dan umrah, salah satunya agen yang berbasis di Ragunan. Sistem maklon ini memproduksi pesanan dalam volume besar di luar katalog retail resmi mereka.

"Jadi kalau musim haji, jujur kita lebih banyak dapat orderan kayak WHI (Wisata Halal Indonesia), jadi kayak travel-travel umrah haji. Kita ngerjain dari belakang," ungkap Eka.

Volume pemesanan dari setiap agen travel tergolong besar dan variatif untuk produk seperti khimar hingga sajadah. Kerja sama dengan beberapa agen travel umrah tersebut sudah berjalan selama dua tahun.

"Dia udah 2 tahun sama kita. Macem-macem, (pesanannya) ada yang 60, 100, 80, ada yang 70. Kalau sajadah, itu WHI sampai 1.100, khimar itu 500," urai Eka.

"Tapi memang Naeka-nya enggak jual khimar. Tapi kita produksiin, jadi buat mereka. Jadi custom," jelasnya.

Di balik profit bisnis, Naeka konsisten menjalankan misi sosial keagamaan. Setiap momen Lebaran, mereka menggelar program Trade-In di mana konsumen bisa menukarkan mukena layak pakai merek apapun untuk mendapatkan potongan harga produk Naeka baru sebesar Rp 150 ribu.

"Jadi dari awal Naeka ini aku dirikan, emang niatku satu sih, bikin bisnis yang berkah buat bekal aku ke akhirat. Itu misi-misi aku," ungkapnya.

"Jadi si customer itu boleh bawa mukena apa aja, bebas, nggak mesti Naeka, bebas, brand apa aja, pokoknya masih layak pakai, nanti kalian bisa Trade-In, jadi kita hargai Rp150.000. Jadi misalnya mukena Naeka yang baru Rp550.000, mereka bawa nih, mukena brand lain, nanti kita lihat, oh ini masih bagus, masih layak, kita hargai R p150.000, jadi kalau dia mau yang Rp550.000, tinggal dipotong Rp150.000, udah dapet mukena baru Naeka," tuturnya.

Mukena layak pakai yang terkumpul kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui yayasan di Cikarang. Sebagian keuntungan penjualan Naeka juga dialokasikan untuk pembangunan musala serta bantuan kurban tahunan di wilayah tersebut.

"Mukena yang si trade-in, yang mereka itu terus kita sumbangin, kita ada kerja sama sama yayasan di Cikarang. Nah itu kita sumbangin untuk mereka," jelasnya.

"Alhamdulillahnya, dari hasil Naeka kita udah bisa bikin musala, walaupun kecil-kecilan di sana, karena ternyata di sana itu, banyak masyarakat nggak mampu, dan waktu itu belum ada rumah ibadah apapun, maksudnya belum ada masjid gitu, itu kita ikut di situ bikin kontribusi," jelas Eka.

"Jadi kan berapa persen dari penjualan, kita selalu udah komit. Pokoknya, kurban nih tiap tahun, kita kirim ke mereka, jadi biar ngerasain lah, emang itu udah komitmen kita sih sebenarnya," kata Eka.

Komitmen Pendampingan Rumah BUMN BRI

Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana menyampaikan bahwa wadah ini berkomitmen memberikan pembinaan gratis untuk membantu UMKM naik kelas. Pendampingan meliputi aspek manajemen hingga pengurusan legalitas usaha.

"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.

Setiap UMKM yang bergabung akan diarahkan mengisi penilaian di Link UMKM untuk memetakan tiga aspek terunggul dan tiga aspek terendah. Pelatihan berikutnya akan difokuskan untuk memperbaiki aspek terendah tersebut dengan menghadirkan para ahli.

"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.

Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 6.000 pelaku usaha yang aktif mengikuti rangkaian program pendampingan yang terbagi dalam tingkatan Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global.

"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi