Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Makkah memperkuat sistem layanan kesehatan berjenjang yang difokuskan pada perlindungan jemaah lansia dan wanita. Fasilitas kesehatan ini menyiagakan tenaga spesialis untuk menangani berbagai keluhan medis, termasuk gangguan kesehatan mental yang sering dialami jemaah.
Dilansir dari Detikcom, penguatan layanan ini mencakup penyiapan dokter spesialis kedokteran jiwa guna mengantisipasi peningkatan kasus demensia di tanah suci. Kepala KKHI Daerah Kerja (Daker) Makkah, dr Mohammad Rizki, menjelaskan bahwa perhatian khusus diberikan kepada jemaah dengan kondisi penurunan fungsi kognitif tersebut.
"Jemaah-jemaah yang kemudian ternyata bermasalah dengan masalah kesehatan, khususnya pasien-pasien demensia. Jadi kita tetap sediakan, kami di sini di KKHI punya dua dokter spesialis kedokteran jiwa," ujar dr Mohammad Rizki, Kepala KKHI Daker Makkah.
Skema deteksi dini juga diterapkan mulai dari tingkat kelompok terbang (kloter) dan sektor sebelum jemaah dirujuk ke pusat kesehatan. Tenaga kesehatan di lapangan bertugas memantau kondisi psikologis jemaah secara berkala untuk mengenali gejala awal gangguan kesehatan.
"Mungkin deteksi awal tetap dilakukan oleh teman-teman tenaga kesehatan kloter. Mereka yang sebagai pendamping yang mungkin akan bisa mengenali gejala awal," jelas dr Mohammad Rizki.
Apabila penanganan di tingkat kloter terkendala oleh keterbatasan fasilitas medis, pasien akan segera dikirim ke KKHI. Namun, bagi jemaah yang berada dalam kondisi darurat medis, prosedur rujukan dapat langsung diarahkan ke rumah sakit milik pemerintah Arab Saudi.
"Teman-teman kloter ataupun teman-teman di sektor itu bisa menilai kegawatan dari segi medisnya," kata dr Mohammad Rizki.
Manajemen perawatan di KKHI kini mengutamakan sistem observasi singkat untuk memastikan efektivitas penanganan. Pasien tidak lagi menjalani rawat inap dalam jangka waktu lama seperti kebijakan pada tahun-tahun sebelumnya.
"Batasnya maksimal selama 4 jam. Jadi dalam 4 jam atau kurang, kami harus sudah menentukan apakah jemaah tersebut memang memerlukan perawatan lanjut," ujar dr Mohammad Rizki.
Implementasi tagline haji ramah wanita diwujudkan melalui pengaturan tata ruang fasilitas kesehatan yang lebih inklusif. KKHI melakukan pemisahan area pemeriksaan guna menjaga privasi serta kenyamanan jemaah perempuan selama proses medis berlangsung.
"Ruang observasi ini kita pisahkan antara jemaah pria dan jemaah wanita," kata dr Mohammad Rizki.
Jemaah yang telah menunjukkan kondisi stabil setelah masa observasi akan diperbolehkan kembali ke kloter masing-masing. Sebaliknya, jemaah yang membutuhkan tindakan medis lebih kompleks akan segera dipindahkan ke rumah sakit rujukan di Arab Saudi.