Sebuah penelitian oleh APC Microbiome Ireland di University College Cork mengungkapkan bahwa konsumsi kopi secara rutin dapat memengaruhi kesehatan usus dan memperbaiki suasana hati melalui jalur komunikasi antara sistem pencernaan dan otak yang disebut gut-brain axis, sebagaimana dilansir dari Lifestyle pada Kamis (7/5/2026).
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications tersebut membandingkan 31 peminum kopi rutin dengan 31 orang yang tidak mengonsumsi kopi. Kelompok peminum kopi didefinisikan sebagai individu yang mengonsumsi 3 hingga 5 cangkir per hari sesuai batas moderat otoritas keamanan pangan Eropa.
Pemahaman mengenai kaitan antara sistem pencernaan dan kondisi mental saat ini terus berkembang di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kesehatan mikrobioma. Peneliti utama menekankan bahwa mekanisme interaksi kopi dalam sumbu komunikasi tersebut masih menjadi fokus observasi mendalam.
"Minat masyarakat terhadap kesehatan usus meningkat pesat. Hubungan antara kesehatan pencernaan dan kesehatan mental juga semakin dipahami, tetapi bagaimana kopi memengaruhi sumbu komunikasi usus dan otak masih belum sepenuhnya jelas. Temuan kami menunjukkan kopi dapat mengubah aktivitas mikroba dan metabolitnya, sehingga berpotensi mendukung kesehatan mikrobioma," ujar Prof. John Cryan, Peneliti Utama APC Microbiome Ireland.
Eksperimen dilakukan dengan meminta kelompok peminum kopi berhenti mengonsumsi minuman tersebut selama dua minggu untuk memantau perubahan biologis. Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan pada metabolit mikroba usus selama periode penghentian jika dibandingkan dengan kelompok non-peminum.
Setelah fase tersebut, peserta diberikan kopi berkafein dan tanpa kafein secara acak tanpa sepengetahuan mereka untuk mendapatkan data yang objektif. Temuan riset menunjukkan adanya peningkatan jenis bakteri tertentu yang berperan dalam melindungi sistem pencernaan dari ancaman bakteri berbahaya.
"Kelompok peminum kopi menunjukkan peningkatan bakteri seperti Eggertella sp dan Cryptobacterium curtum yang diduga berperan dalam metabolisme di sistem pencernaan serta membantu melindungi tubuh dari bakteri berbahaya," jelas Prof. John Cryan, Peneliti Utama APC Microbiome Ireland.
Peningkatan bakteri golongan Firmicutes juga teridentifikasi berkaitan dengan munculnya respons emosional yang lebih positif, terutama pada subjek perempuan. Dari sisi kognitif, kopi tanpa kafein justru secara spesifik meningkatkan kemampuan belajar dan daya ingat peserta penelitian.
Kandungan polifenol diduga menjadi faktor kunci di balik efek positif kopi tanpa kafein bagi kemampuan otak. Sementara itu, varian kopi berkafein ditemukan lebih efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan, meningkatkan fokus, kewaspadaan, serta mengurangi risiko peradangan pada tubuh.
"Temuan ini menunjukkan bahwa kopi memiliki efek yang kompleks dan tidak hanya bergantung pada kafein, tetapi juga pada interaksi dengan mikrobioma usus yang berperan dalam metabolisme tubuh serta kesehatan mental. Dengan hasil ini, kopi berpotensi menjadi bagian dari pola makan sehat yang mendukung keseimbangan pencernaan dan kondisi emosional jika dikonsumsi dalam jumlah yang tepat," tegas Prof. John Cryan, Peneliti Utama APC Microbiome Ireland.