Krisis iklim dilaporkan memicu perluasan wilayah penyebaran arenavirus melalui migrasi hewan pengerat ke berbagai kawasan baru di Amerika Selatan pada Rabu (6/5/2026). Fenomena ini mengancam jutaan penduduk yang sebelumnya belum pernah terpapar penyakit tersebut.
Hasil penelitian Universitas California (UC), Davis, menunjukkan adanya risiko infeksi serius pada manusia akibat pergeseran habitat reservoir virus. Temuan yang dilansir dari Lestari ini menggunakan model proyeksi untuk memantau ancaman penyakit dalam rentang waktu 20 hingga 40 tahun mendatang.
Tim peneliti mengintegrasikan data proyeksi iklim dan dinamika populasi hewan pengerat untuk memetakan risiko di Benua Amerika. Pranav S. Kulkarni, peneliti di Sekolah Kedokteran Hewan Weill UC Davis, memberikan penjelasan terkait dampak perubahan lingkungan ini terhadap kesehatan publik.
"Seiring percepatan perubahan iklim, studi kami menunjukkan bagaimana risiko wabah arenavirus memanfaatkan pergeseran populasi hewan pengerat untuk menjangkau jutaan orang lagi di seluruh Amerika Selatan," ujar Pranav S. Kulkarni, penulis utama studi tersebut.
Arenavirus yang menjadi fokus penelitian mencakup virus Guanarito di Kolombia dan Venezuela, virus Machupo di Paraguay dan Bolivia, serta virus Junin di Argentina. Peneliti menggunakan platform AtlasArena untuk melacak bagaimana perubahan penggunaan lahan dan suhu memengaruhi transmisi zoonosis dari hewan ke manusia.
Pemodelan tersebut memprediksi bahwa virus Guanarito yang berasal dari Venezuela tengah akan bermigrasi ke wilayah perbatasan Suriname, Brasil bagian utara, hingga sebagian Kolombia. Perpindahan ini memicu kekhawatiran terhadap populasi yang memiliki tingkat kekebalan rendah terhadap infeksi virus pengerat.
Faktor utama yang mendorong lonjakan risiko ini adalah perubahan curah hujan dan perluasan lahan pertanian yang merambah habitat alami tikus. Kondisi tersebut mempermudah terjadinya kontak antara hewan pembawa virus dengan pemukiman manusia dan area perkotaan.