Krisis Kepercayaan Picu Tekanan Pasar Keuangan dan Rupiah

Krisis Kepercayaan Picu Tekanan Pasar Keuangan dan Rupiah

Koreksi mendalam yang melanda pasar keuangan domestik dinilai bersumber dari merosotnya kepercayaan investor terhadap kepemimpinan serta tata kelola negara. Tekanan tersebut berdampak nyata pada pergerakan saham dan pelemahan nilai tukar Rupiah, seperti dikutip dari Investasi.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy memaparkan bahwa tata kelola yang baik perlu segera diterapkan kembali demi kepentingan nasional. Sektor dunia usaha membutuhkan pembinaan jangka panjang daripada langkah instan untuk menutup defisit anggaran.

“Untuk itu, pemerintah perlu membereskan banyak hal sesuai dengan best practice dan demi kepentingan bangsa yang lebih besar,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (4/6).

Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menilai intervensi yang dilakukan belakangan ini justru mengikis kepastian bagi pelaku usaha. Orientasi penutupan anggaran jangka pendek dinilai mengorbankan pengembangan iklim bisnis yang berkelanjutan.

“Justru Intervensi pemerintah yang menyebabkan berkurang atau hilangnya kepercayaan investor karena tidak berorientasi pada pembinaan dan pengembangan dunia usaha dalam jangka panjang,” ucapnya.

Otoritas terkait didorong untuk segera mengambil tindakan yang lebih tegas dan terkoordinasi demi menstabilkan kondisi pasar. Penguatan tidak bisa hanya mengandalkan intervensi artifisial pada indeks saham.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia PAEI David Sutyanto menyebut komunikasi yang solid antarotoritas menjadi kunci utama saat ini. Selain itu, optimalisasi peran investor institusi domestik seperti dana pensiun dan BUMN sangat diperlukan untuk masuk pada saham undervalued.

“Namun intervensi pemerintah sebaiknya bukan sekadar menahan indeks secara artifisial, tetapi mengembalikan kepercayaan dan yang paling dibutuhkan kepastian arah kebijakan hingga komunikasi solid antarotoritas,” tuturnya.

Strategi Menghadapi Tekanan Pasar

Para pelaku pasar modal disarankan untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan tergesa-gesa akibat fluktuasi harian. Evaluasi terhadap fundamental emiten harus dilakukan secara cermat sebelum melakukan tindakan mitigasi risiko.

“Kuncinya adalah selektif. Pasar memang sedang tertekan, tetapi tekanan seperti ini juga sering membuka peluang pada saham berkualitas. Investor perlu cek fundamental, valuasi, likuiditas, risiko kurs,” tuturnya.

Langkah pencairan aset atau cut loss dapat menjadi opsi bagi pemilik modal yang membutuhkan dana tunai dalam waktu dekat. Bagi yang tidak memiliki urgensi likuiditas, mempertahankan saham prospektif atau mengambil posisi wait and see menjadi pilihan logis.

Potensi Skenario Ekstrem Pergerakan Indeks

Penurunan kepercayaan yang mengarah pada kondisi distrust berpotensi membawa IHSG terkoreksi lebih dalam. Skenario terburuk menuju level 4.000 secara teori dapat terjadi jika ada akumulasi guncangan ekonomi yang masif.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menjelaskan bahwa kejatuhan ekstrim memerlukan kombinasi faktor berupa krisis fiskal, lonjakan kurs, dan pelarian modal asing secara besar-besaran.

“Yakni, pelemahan rupiah yang lebih parah, perlambatan ekonomi tajam, arus keluar asing besar, krisis fiskal atau guncangan global besar. Dengan kondisi saat ini, skenario 4.000 lebih merupakan skenario ekstrem daripada skenario dasar,” ucap Edwin.

Secara historis, fase pelemahan beruntun yang dialami pasar saat ini sudah menyamai catatan koreksi terpanjang sejak tahun 2020. Data statistik menunjukkan posisi ini biasanya mendekati masa akhir penurunan sebelum pembalikan arah.

“Namun, belum ada jaminan bahwa bottom sudah terbentuk karena arah pasar masih dipengaruhi sentimen global, arus dana asing, dan kondisi ekonomi domestik,” tulis Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (4/6).

Meskipun area koreksi sudah tergolong ekstrem, konfirmasi perubahan tren pergerakan pasar masih menunggu perbaikan sentimen secara menyeluruh. Tekanan beli yang kuat dari investor tetap menjadi syarat utama pemulihan.

Artikel terkait

Rekomendasi