Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kecukupan cairan harian masih rendah di tengah tingginya ancaman konsumsi air tidak aman yang berdampak pada gangguan tumbuh kembang anak. Masalah serius ini dilansir dari Lifestyle terkait risiko kontaminasi bakteri Escherichia coli pada air minum rumah tangga.
Praktisi kesehatan RS Mitra Keluarga Bintaro, Adelina Haryono mengungkapkan banyak warga merasa kebutuhan cairannya sudah terpenuhi meski data menunjukkan sebaliknya. Fenomena ini terlihat dari fakta bahwa 1 dari 5 anak serta 1 dari 4 orang dewasa masih kekurangan cairan.
Adelina menjelaskan air memiliki peran vital karena menyusun 50 persen hingga 60 persen komposisi tubuh manusia, mulai dari pembentukan sel hingga keseimbangan cairan.
"Kebutuhan cairan berbeda-beda, tetapi secara umum anak membutuhkan sekitar 1,2 hingga 1,5 liter per hari, sedangkan orang dewasa sekitar 1,8 hingga 2 liter per hari. Dan yang terpenting, jangan menunggu haus untuk minum," kata Adelina Haryono, Praktisi kesehatan RS Mitra Keluarga Bintaro.
Tantangan kesehatan publik tidak hanya pada volume konsumsi, tetapi juga mutu air. Sebagian besar rumah tangga di Indonesia terdeteksi mengonsumsi air yang tidak memenuhi syarat keamanan bagi kesehatan.
Dipl in Nutrition, MKK, Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation Aqua, Tria Rosemiarti memaparkan data Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga yang menunjukkan 7 dari 10 rumah tangga mengonsumsi air terkontaminasi bakteri.
"Masih banyak sumber air yang berisiko tercemar, dan hanya sebagian kecil yang memiliki akses air minum aman," ujar Tria Rosemiarti, Dipl in Nutrition, MKK, Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation Aqua.
Masyarakat seringkali mengandalkan proses perebusan untuk menjernihkan air sebelum dikonsumsi. Namun, langkah ini dinilai belum cukup untuk menghilangkan seluruh zat berbahaya yang terkandung di dalam air dari sumber yang tercemar.
Tria menambahkan bahwa merebus air memang membunuh sebagian besar bakteri, tetapi tidak mampu melenyapkan kandungan logam berat atau senyawa kimia berbahaya lainnya.
Dampak jangka panjang konsumsi air tidak layak ini sangat krusial bagi anak-anak karena mengganggu penyerapan nutrisi penting. Publikasi internasional mencatat anak yang terpapar air terkontaminasi mikrobiologis memiliki risiko stunting 4,14 kali lebih tinggi.
Studi yang dilakukan di 13 provinsi termasuk Deli Serdang, Sumatera Utara, membuktikan bahwa kontaminasi air tidak hanya menghambat tinggi badan. Efek buruk lainnya mencakup penurunan daya ingat, kemampuan bahasa, hingga performa akademik anak di sekolah.