Kualitas Udara Jakarta Memburuk Masuk Kategori Tidak Sehat

Kualitas Udara Jakarta Memburuk Masuk Kategori Tidak Sehat

Kondisi udara di Ibu Kota kembali memperlihatkan penurunan kualitas yang signifikan. Berdasarkan data terbaru, tingkat pencemaran yang terjadi memicu peringatan bagi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan.

Kualitas udara di Jakarta mencatatkan angka 157 pada Air Quality Index (AQI), seperti diberitakan oleh Megapolitan yang mengutip situs pemantau IQAir. Pencatatan yang dilakukan menunjukkan tingkat polusi telah masuk dalam kategori tidak sehat bagi publik.

Kondisi ini menempatkan Jakarta di posisi keenam dalam daftar kota dengan pencemaran udara tertinggi di dunia. Posisi pertama ditempati oleh Riyadh di Saudi Arabia dengan nilai AQI 264, diikuti oleh Lahore di Pakistan yang mencatatkan angka 201.

Peringkat ketiga diduduki oleh Kuwait City di Kuwait dengan AQI 190. Sementara itu, posisi keempat dan kelima ditempati oleh Johannesburg di South Africa dengan angka 169 serta Delhi di India yang mencatatkan indeks 157.

Dampak buruk dari situasi ini tidak hanya mengancam kelompok sensitif, melainkan sudah mulai dirasakan oleh masyarakat secara umum. Meski demikian, risiko kesehatan yang lebih tinggi tetap membayangi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan individu dengan gangguan pernapasan.

Partikel halus berukuran kecil atau PM2.5 menjadi polutan utama yang mendominasi atmosfer Ibu Kota dengan konsentrasi mencapai 64 mikrogram per meter kubik. Kandungan partikel berbahaya yang dapat menembus paru-paru ini telah melampaui ambang batas aman tahunan yang ditetapkan oleh WHO sebesar 15 mikrogram per meter kubik.

Data pencemaran tersebut diperoleh melalui pemantauan menyeluruh dari 44 stasiun yang dikelola oleh 42 kontributor di berbagai wilayah Jakarta. Hasil pemantauan ini dinilai telah merepresentasikan kondisi lingkungan Ibu Kota secara riil.

Faktor meteorologi turut memengaruhi bertahannya polutan di udara. Suhu udara Jakarta berada di angka 28 derajat celsius dengan kelembapan mencapai 84 persen serta kecepatan angin yang cenderung rendah sekitar 4 kilometer per jam.

Kombinasi parameter cuaca tersebut menyebabkan partikel polusi menjadi lebih sulit terurai atau bergerak ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Alhasil, zat berbahaya berkumpul di lapisan bawah dan langsung terhirup oleh warga dalam aktivitas keseharian mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi