Kebiasaan Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Pikiran Negatif Berulang

Kebiasaan Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Pikiran Negatif Berulang

Penelitian dari Binghamton University menemukan bahwa kebiasaan tidur kurang dari delapan jam per malam berkaitan dengan meningkatnya pikiran negatif yang muncul berulang kali.

Pola pikir seperti ini sering ditemukan pada individu dengan gangguan kecemasan maupun depresi, seperti dilansir dari Lifestyle pada Kamis, 7 Mei 2026.

Salah satu kebiasaan tidur yang paling sering memicu kecemasan adalah beristirahat kurang dari durasi yang direkomendasikan karena berbagai faktor seperti pekerjaan atau hiburan digital.

Peneliti utama dari Binghamton University, Meredith Coles menemukan, kurang tidur berkaitan erat dengan pikiran intrusif atau pikiran negatif yang muncul terus-menerus.

Otak menjadi lebih sulit memproses dan melepaskan stres yang menumpuk sepanjang hari ketika seseorang tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup.

Akibatnya, pikiran negatif cenderung tersangkut lebih lama dan seseorang dapat terus memikirkan masalah yang sama secara berulang-ulang.

Kondisi ini membuat kurang tidur sering kali menjadi pemicu kecemasan yang sulit dikendalikan meski masalah yang dihadapi sebenarnya tidak terlalu besar.

Siklus Kecemasan dan Gangguan Tidur

Kualitas tidur yang sering terputus-putus juga dapat memperburuk kondisi mental selain faktor durasi tidur yang singkat.

Rita Aouad, seorang psikiater sekaligus spesialis pengobatan tidur dari The Ohio State University Wexner Medical Center, memberikan penjelasannya mengenai fenomena ini.

"Tantangan terbesar dari kecemasan dan masalah tidur adalah keduanya saling memperburuk," ujar Aouad.

Otak menjadi semakin sulit menghentikan pola pikir negatif tersebut ketika waktu istirahat terus mengalami gangguan secara konsisten.

Kondisi ini menciptakan siklus yang berulang di mana seseorang sulit tidur karena merasa cemas, lalu kecemasannya memburuk akibat kurang tidur.

Efek Penggunaan Gadget Sebelum Tidur

Kebiasaan menggunakan ponsel, tablet, atau perangkat digital lain sebelum tidur sering kali tidak disadari sebagai pemicu gangguan kesehatan mental.

Cahaya biru yang dipancarkan layar gadget dapat menghambat produksi melatonin, yaitu hormon yang berfungsi membantu tubuh merasa mengantuk.

Terganggunya produksi melatonin membuat tubuh lebih sulit memasuki fase tidur nyenyak dan membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur.

Hal ini berbahaya karena otak tidak memperoleh waktu cukup untuk melakukan proses pemulihan serta pengolahan emosi yang diperlukan tubuh.

Pentingnya Fase Tidur REM bagi Otak

Tubuh melewati beberapa tahapan saat tidur, termasuk fase REM (Rapid Eye Movement) yang berfungsi mengonsolidasikan memori dan memproses pengalaman emosional.

Aouad menjelaskan bahwa tidur yang terlalu singkat atau sering terbangun dapat mengurangi durasi tidur REM secara signifikan.

Pikiran-pikiran negatif yang seharusnya tersaring justru tetap bertahan ketika fase REM terganggu selama proses istirahat berlangsung.

Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa seseorang yang kurang tidur sering merasa emosinya tidak stabil dan lebih mudah merasa cemas keesokan harinya.

Para ahli menyarankan pembangunan rutinitas tidur yang konsisten pada jam yang sama setiap hari untuk membantu tubuh membentuk pola istirahat yang lebih sehat.

Berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental menjadi langkah penting jika kecemasan dan gangguan tidur terus berlangsung dalam jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi