Laba Bank Mandiri Tumbuh Agresif saat Kinerja BCA Melambat Triwulan II 2026

Laba Bank Mandiri Tumbuh Agresif saat Kinerja BCA Melambat Triwulan II 2026

Dua bank besar nasional mencatat kinerja yang kontras pada awal triwulan II 2026. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tampil agresif dengan pertumbuhan laba dua digit, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap solid meski mengalami perlambatan.

Hingga April 2026, Bank Mandiri membukukan laba bersih (bank only) sebesar Rp 18,05 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 18,85% secara tahunan (yoy), seperti dikutip dari Keuangan.

Kinerja positif ini terutama ditopang oleh penguatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang naik 9,83% yoy menjadi Rp 27,91 triliun. Kenaikan terjadi seiring peningkatan pendapatan bunga dan efisiensi beban bunga.

Dari sisi efisiensi, Bank Mandiri berhasil menekan berbagai beban operasional. Beban impairment turun 17,08% yoy menjadi Rp 2,50 triliun, sementara beban operasional menyusut 15,24% yoy menjadi Rp 5,66 triliun.

Beban tenaga kerja Mandiri ikut turun 13,47% yoy. Di sisi lain, pendapatan berbasis komisi melonjak pesat hingga 21,94% yoy menjadi Rp 7,36 triliun, sehingga mendorong laba operasional tumbuh 18,85% yoy menjadi Rp 22,25 triliun.

Untuk fungsi intermediasi, Bank Mandiri mencatat penyaluran kredit tumbuh kuat sebesar 18,48% yoy menjadi Rp 1.550,17 triliun. Hal ini sejalan dengan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 16,61% yoy menjadi Rp 1.649,96 triliun.

Namun, pertumbuhan DPK Bank Mandiri masih ditopang oleh dana mahal. Kondisi tersebut tercermin dari lonjakan deposito yang naik hingga 52,25% yoy, sementara giro dan tabungan tumbuh lebih moderat.

Berbeda dengan Bank Mandiri, kinerja BCA cenderung lebih stabil namun dengan pertumbuhan yang terbatas. Laba bersih (bank only) BCA tercatat hanya naik 3% yoy menjadi Rp 20,81 triliun hingga April 2026, dilansir dari Keuangan.

Pertumbuhan terbatas ini sejalan dengan NII BCA yang justru terkoreksi tipis 0,3% yoy menjadi Rp 26,18 triliun. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan beban bunga yang berjalan lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan bunga.

Pendapatan bunga BCA tercatat hanya tumbuh 0,63% yoy menjadi Rp 30,53 triliun. Sementara itu, beban bunga perseroan mengalami kenaikan sebesar 6,62% yoy menjadi Rp 4,35 triliun.

Meski demikian, BCA tetap berhasil menekan beban impairment sebesar 16,24% yoy menjadi Rp 1,06 triliun. Langkah efisiensi ini terjadi di tengah penurunan pendapatan operasional lain seperti dividen yang menyusut 11,65% yoy.

BCA juga mencatat perubahan signifikan pada pos valuasi aset keuangan. Pos ini berbalik menjadi rugi Rp 102,03 miliar, dari posisi untung Rp 426,45 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sehingga laba operasional hanya tumbuh 3,39% yoy menjadi Rp 25,28 triliun.

Dari sisi penyaluran kredit, laju pertumbuhan BCA juga lebih moderat yakni sebesar 4,54% yoy menjadi Rp 965,01 triliun. Di sisi lain, DPK BCA tumbuh sebesar 7,69% yoy menjadi Rp 1.236,05 triliun.

Komposisi DPK BCA dinilai lebih sehat karena didominasi oleh dana murah. Giro tercatat naik 15,68% yoy dan tabungan tumbuh 6,87% yoy, sedangkan pos deposito justru mengalami penurunan sebesar 4,71% yoy.

Secara keseluruhan, Bank Mandiri menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang lebih agresif dari sisi laba, penyaluran kredit, maupun efisiensi biaya. Sebaliknya, BCA fokus menjaga stabilitas profitabilitas dengan kualitas pendanaan yang lebih kuat meski laju pertumbuhan terbatas.

Artikel terkait

Rekomendasi