Laba Bersih Bank Mandiri Tumbuh 18,85 Persen hingga April 2026

Laba Bersih Bank Mandiri Tumbuh 18,85 Persen hingga April 2026

PT Bank Mandiri Indonesia Tbk berhasil mempertahankan tren positif profitabilitas pada awal kuartal kedua tahun ini. Emiten berkode saham BMRI tersebut mencatatkan kinerja keuangan yang solid secara bank only.

Hingga April 2026, Bank Mandiri sukses membukukan laba bersih sebesar Rp 18,05 triliun. Angka keuntungan ini mengalami peningkatan sebesar 18,85% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Dikutip dari Keuangan, pertumbuhan laba bersih tersebut utamanya disokong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Pendapatan bunga bersih perseroan terkerek hingga 9,83% yoy menjadi Rp 27,91 triliun.

Secara lebih mendalam, pendapatan bunga emiten perbankan plat merah ini naik 5,99% yoy menjadi Rp 41,96 triliun. Di saat yang sama, beban bunga perseroan berhasil ditekan tipis sebesar 0,9% yoy menjadi Rp 14,04 triliun.

Langkah efisiensi juga terlihat di pos operasional, di mana manajemen mampu memangkas beban impairment sebesar 17,08% yoy menjadi Rp 2,50 triliun. Hal ini kemudian memicu penurunan total beban operasional bank sebesar 15,24% yoy menjadi Rp 5,66 triliun.

Selain itu, pengeluaran untuk sektor tenaga kerja menyusut 13,47% yoy menjadi Rp 5,74 triliun. Di sisi lain, pendapatan dari komisi, provisi, fee, dan administrasi melonjak hingga 21,94% yoy menyentuh Rp 7,36 triliun.

Berbagai faktor pendukung tersebut pada akhirnya membuat laba operasional Bank Mandiri melonjak dua digit. Perseroan membukukan pertumbuhan laba operasional sebesar 18,85% yoy menjadi Rp 22,25 triliun.

Fungsi Intermediasi dan Struktur Dana Pihak Ketiga

Fungsi intermediasi perusahaan juga menunjukkan performa yang kuat. Penyaluran kredit Bank Mandiri melesat dengan pertumbuhan dua digit sebesar 18,48% yoy menjadi Rp 1.550,17 triliun.

Pertumbuhan penyaluran kredit ini berjalan beriringan dengan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Jumlah DPK yang berhasil dikumpulkan oleh bank melonjak sebesar 16,61% yoy hingga mencapai Rp 1.649,96 triliun.

Meskipun demikian, komposisi penambahan DPK masih didominasi oleh dana mahal. Giro bank tercatat tumbuh 7,39% yoy menjadi Rp 620,50 triliun dan tabungan meningkat sebesar 5,58% yoy menjadi Rp 474,93 triliun.

Sementara itu, instrumen deposito justru mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Komponen dana mahal ini melesat pesat hingga 52,25% yoy dengan nilai mencapai Rp 474,93 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi